Senin, 19 Maret 2018

Pohon itu Jahat !

Telah sampai dititik pemahaman, bahwa pohon itu ternyata tidak sebaik yang saya bayangkan. Kalau siang hari sok baik ngasih keteduhan dan kesejukan, eh kalau malem diem diem nyuri oksigen. Kalau yang di curi cuman hape gitu mah nggak papa. Lah, ini oksigen bos. Tanpa oksigen manusia bisa mati. Walau tanpa hape kayaknya juga bisa mati. Enak ya jadi orang kota, hidup tanpa pohon, kalau malem tidurnya nyenyak, nggak ada pencuri oksigen bernama pohon. Coba bayangkan orang desa, rumahnya di kelilingi pohon, pohon, dan pohoooon !. Setiap malam kita sesak nafas. Kita harus bertempur merebutkan oksigen. Walau pohonnya di luar rumah sekalipun, kalau itu jumlahnya banyak, ya tetep mengerikan ! 

Oksigen yang seharusnya dikonsumsi sesuai kebutuhan malah di ambil sebanyak-banyaknya oleh pohon. Pohon mengeksploitasi oskigen. Benar benar kapitalis. Pohon mengambil oksigen demi perutnya sendiri, demi batangnya sendiri. Batangnya tambah gendut, tubuhnya tambah tinggi. La manusia ? Mati di usia rata-rata bos ! 75 tahun sudah sesak nafas batuk-batuk gars gara siapa ? Ya gara-gara pohon ! Oksigennya di curi pohon ! Pohon mah bodo amat, umurnya bisa sampai ratusan tahun. "Yang penting mah saya hidup panjang umur, manusia mati mah bodo amat, hahaha". Gitu ya hon ?. Kalau siang sok ngasih kesejukan padahal dia sedang menjilat agar terlihat baik. Emang kurang ajar lah si pohon ini. 


Setiap malam tidur saya nggak pernah nyenyak. Itu yang membuat saya sering begadang. Yaitu menjaga oksigen agar tidak ada pohon yang masuk ke dalam rumah. Sisa oksigen di dalam rumah tinggal sedikit. Jangan di ambil lagi donk hon ! Elu kan udah gendut. Kalau udah gendut batangnya udah gede, lalu nggak kuat berdiri, terus ambruk, njatuhin rumah njatuhin mobil, siapa yang rugi ? Ya manusia lagi. Sekarang saya sadar. Penebang liar itu ternyata tidak salah. Dia hanya melakukan pemberontakan. Mengambil kembali oksigen yang seharusnya untuk manusia, yang malah di simpen di batang pohon demi panjang umurnya. Pohon memang jahat.

Tertanda, Front penebang pohon.

Senin, 22 Januari 2018

Dia adalah Simbahku : 1928.


Yang masih punya simbah kakung dan simbah putri, yang usianya di kisaran 80 tahun keatas, segeralah di wawancarai, sebelum saksi sejarah itu menghilang. Usia beliau jauh lebih tua daripada Indonesia. Bagi mereka, Indonesia hanyalah sebuah anak kecil kemaren sore yang tidak tau apa-apa tentang masa masa sebelum kemerdekaan. Kalau di zaman sekarang, Seperti kita memandang anak-anak SD yang masih lari-lari pecicilan. Yang selalu menimbulkan kesan, "apaan sih ini Indonesia, woy awas ! jangan lari lari dipinggir jalan, nanti kesrempet mobil ! Lari larinya di tengah jalan aja, biar sekalian ketabrak !". Ya begitulah kira kira.

Saya baru saja menemukan kamera peninggalan mbahkung. Kamera yang sampai sekarang masih bisa digunakan. Masih bisa digunakan untuk mbalang sirah. Sirahnya pemilik akun lambe murah. Kalau untuk jepret jepret seperti hengpong jadul sudah nggak bisa. Itu adalah Kamera anak gahul zaman old. Saat itu pasti mbahkung saya sangat mbagusi. Udah punya kamera sendiri. Udah bisa posting posting foto di instagram di akunnya sendiri. Mungkin yang nge-like fotonya mbahkung adalah teman temanya yang menjadi prajurit PETA ( pembela tanah air ) dan mandor Romusha. Hah ? Mandor romusha ? Yak betul. Menurut penuturan beliau sendiri, yang membuat saya merinding saat itu juga, beliau adalah mandor romusha jaman penjajahan Jepang. Ya sama sama romusha, tapi mandor. Ya kepala pembantu gitulah kira-kira. Tapi ya tetep, ngeyel dikit langsung dipecut. Kalau ngeyel banyak ya di dor.


Dulu jalan raya masih sepi. Katanya. Belum ada yang jualan bunga di perempatan jalan. Dulu yang ada hanyalah tank, tank, dan taaaank ! Iya tank. Bisa ngebayangin lagi makan soto dipinggir jalan lalu pas mau nyruput kuah soto, kuahnya tumpah tumpah karena tanahnya getar gara-gara ada tank lewat. Iya itu tank beneran yang sering kita lihat di museum sama di tipi tipi. Dulu mbahkung saya bersama teman teman suka iseng, eh bukan iseng, lebih tepatnya melawan penjajah, Dengan cara membuat jebakan tank di jalan raya. dulu jalanya masih dari tanah, terus di keruk sedalam 2 meter, panjang dan lebarnya kira-kira 4 × 6 meter. Terus ditutupi pakai gedek, lalu ditutupi pakai tanah lagi. Dengan harapan tanknya lewat situ dan nylungsep ke jebakan batman yang telah dibuat selama berminggu-minggu oleh mbahkung. Tapi ternyata jebakan itu gagal. Para londo londo itu terlalu cerdas untuk terjebak jebakan semacam itu. Sialaaaan. Londo londo tersebut turun dari tank lalu jalan kaki. Tank nya dituntun biar nggak njeblos. Ya enggak lah !. Tank nya di tinggal di tempat aman dan di iketkan ke pohon biar tanknya nggak hilang dan biar nggak lari kemana-mana. 

Lalu mbahkung ndelik di lumbung padi biar nggak ketahuan. Ketika suasana sudah aman, beliau baru bisa makan dengan tenang. Biasanya kalau makan 3 hari sekali. Bukan 3 kali sehari. Lalu kata beliau, jika ada pesawat lewat, mbahkung nggak bisa lihat keatas lalu triak triak "pesawaaat, minta uaaaanggg". Nggak nggak, nggak bisa. Yang diturunkan malah rudal dan bom bom atom yang siap membumi hanguskan daratan jika terlihat ada makhluk sliwar sliwer di jalan raya maupun pekarangan. Jadi jika ada suara pesawat lewat, mbahkung dan mbahti langsung ngumpet di bungker bawah rumah biar nggak keliatan dari langit. Lalu saat itu mbahkung bilang ke mbahti, 

"Mbahti, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Coba kalau nanti sore pergi ke markas belanda sambil jalan maju mundur. Siapa tau nanti aku jadi cinta. Tunggu aja."

Seketika itu juga suara ledakan menghujami di area sekitar pekarangan rumah. Bum bum bum. Saya nggak bisa ngebayangin kondisinya saat itu. Benar benar nggak bisa. Mungkin perumpamaan paling dekat adalah game metal slug. Mbahkung dan mbahti lari lari lalu dihujani rudal dari langit oleh penjajah. Lalu ada kakek kakek bawa karung isinya huruf R lalu di injek sama mbahkung lalu mbahkung punya senjata roket yang siap membalas untuk ditembakan ke langit. Rasakan ini penjajah sialaaaaan !. Bum bum bum. 

Karena nembakinya ngawur dan peluru roketnya cuman 9, tidak satupun yang bisa mengenai pesawat jet di langit. Lalu mbahkung dan mbahti ngumpet lagi. Lalu di dalam umpetan itu, mbahti bilang ke mbahkung, 
"Mbahkung, besok minggu aku diajak jalan sama guru lesku, mbahkung cemburu nggak ?"

Lalu mbahkung menjawab,
"Cemburu hanya untuk orang-orang yang tidak percaya diri, dan sekarang aku sedang tidak percaya diri."

"Kenapa tidak percaya diri ?" Tanya mbahti,


"Karena tadi nembak pesawat pakai roket 9 kali nggak ada yang kena, siaaaaall". 

Seketika itu juga tangis mereka berdua pecah.

Untuk menutup tulisan ini, perkenankan saya memberi sebuah kesimpulan. kesimpulan yang mungkin kalian pun tak percaya dengan kebenaranya. Kesimpulannya adalah, selama ini, kita di bodohi oleh buku buku sejarah yang kita jumpai selama kita masih sekolah. Masa masa penjajahan sebelum merdeka, yang di tulis di buku pelajaran, semua itu hanyalah omong kosong. Membuat mindset bahwa masa sebelum merdeka adalah masa yang sangat mencekam dan penuh dengan penindasan. Padahal kenyataanya adalah .. lebih parah ! Tapi seru. Begitu kata simbah. 

Minggu, 21 Januari 2018

Turning Point.


Saat kuliah, saya menemukan beberapa turning point yang benar-benar mengubah mindset saya. Turning point yang benar-benar menimbulkan efek "sialan, bener juga". Dan mengubah cara pandang saya dalam menyikapi sesuatu. Ada 5 turning point yang benar benar sangat melekat dan masih saya ingat sampai sekarang. Apa sajakah ? Yuk ah, sikat.


Ini adalah turning point yang pertama. Yaitu dosen bahasa indonesia, perempuan. Agak muda. Saya lupa namanya. Mungkin satu kelas sudah lupa dengan ucapan beliau. Atau justru nggak peduli. Tapi saya masih ingat. Benar-benar ingat. Dia mengajar di kelas dengan membawa buku sangat banyak, lalu beliau bilang, "kalian tau kenapa saya bawa buku banyak ? Karena satu buku di atas ini, akan berhubungan dengan buku buku di bawahnya. Entah itu buku fisika lalu bawahnya buku tentang olahraga sekalipun, itu tetap berhubungan. Karena ilmu tak bisa berdiri sendiri. Maka dari itu. Jangan pernah merasa paling pintar hanya karena menguasai satu ilmu, karena ilmu-ilmu lain akan senantiasa mengikuti. Apa yang kamu sombongkan dari ilmu ? Padahal semakin kamu membaca, kamu semakin tau apa yang tidak kamu ketahui". Sadis. Saya langsung menunduk. Merasa diri saya sangat kecil. Seperti cemilan di alam semesta. Mungkin sejak saat itu saya jadi haus akan buku. Semakin haus menghubung-hubungkan satu ilmu dengan ilmu-ilmu yang lain agar terhubung. Dan benar ternyata, semua ilmu benar-benar berhubungan. Dan saya sudah menemukan sumber dari segala sumber ilmu, yang menghubungkan segala jenis ilmu. yaitu ilmu filsafat.



Lalu lambat laun, di tengah-tengah kehausan saya akan buku, munculah pak hamid anwar. Beliau adalah pembimbing akademik saya. Jika ada ajang dosen panasonic award, sudah jelas saya akan memilih pak hamid. Ada dua prinsip yang benar-benar membekas di benak saya. Yang pertama adalah prinsip tentang menyikapi sebuah gender. "Apa yang membedakan laki-laki & perempuan?". Semua mahasiswa hanya terdiam saat itu. Lalu pak hamid mulai menggambar sebuah tabel, yang kanan tabel untuk laki2, dan yang kiri untuk perempuan. "Apa yang membedakan ? Tidak ada yang tahu ? Coba perhatikan. Perempuan dan laki2 sama sama memiliki tangan, kaki, kepala dan badan. Yang ke-1, yg membedakan adalah bentuk payudara. Yang ke-2, adalah bentuk kelamin. Yang ke-3, adalah organ2 pembentuk sel telur dan sperma. Udah. Hanya 3 itu. hanya 3 itu yang paten yang tidak bisa kamu terobos. Selain itu, seperti memakai rok, anting-anting, rambut panjang, sepatu hak tinggi, warna pink, sifat lemah lembut dan maco, semua bisa kamu terabas. itu hanyalah budaya dan kebiasaan kebiasaan dari masa lampau. Kamu bisa menerobos bebas keluar masuk di bagian kebiasaan, tapi tidak untuk ketiga hal yang sudah kodrat tersebut." Sadis. Sialan. Lagi lagi saya kalah telak. Mungkin itu kenapa sejak saat itu saya lebih suka memakai kaos berkerah warna pink dan lebih suka rambut gondrong daripada cepak. Biar di kata aneh, bodo amat.

Lalu ada lagi prinsip pak hamid yang benar benar saya tiru, saat membahas dua mahasiswa keras kepala yang sedang berdebat. Beliau berkata "dalam sebuah perdebatan, ada dua kemungkinan yang terjadi, yang pertama adalah melebur jadi satu, dan menjadi satu pemikiran, atau tidak melebur dan berjalan menurut pemikiranya masing-masing. Itupun tak masalah. Itulah kenapa pemaksaan kehendak tidak bisa dilakukan dalam sebuah perdebatan". Wow. Mungkin ini jawaban dari pertanyaan saya selama ini, kenapa di dunia ini terdapat banyak agama, banyak suku, banyak ras dan banyak partai yang berdiri menurut prinsipnya sendiri-sendiri. Keren.


Lalu semester terus berlanjut, memasuki semester akhir. Bertemulah saya dengan bu woro. Sepertinya beliau bergelar prof, dosen juga di pasca sarjana. Tapi ini tentang kutipanya, sebelum dia memulai mata kuliah statistika. Beliau berkata "apa tujuanmu datang ke sini ? Datang ke kelas ini ? Ilmu ? Ya benar. Ilmu. Lalu, untuk apa ilmu tersebut ? " lalu semua satu kelas cuman bengong antara tidak bisa menjawab atau tidak mendengarkan. Saya tergolong yang tidak bisa menjawab. Kalau dengar, saja jelas mendengarkan, karena saya duduknya paling depan. Tapi saya tidak bisa menjawab. Jawabanya apa bu, lekaslaaah, jangan membuat saya penasaran. Lalu bu woro pun akhirnya menjelaskan, "tujuan ilmu, dibagi menjadi tiga bagian. Yang ke-1 adalah, ilmu bertujuan untuk menjelaskan. Lebih sederhanya adalah, jika kamu membeli mesin cuci, kulkas, dll, pasti ada buku panduan untuk menjelaskan. Disitulah fungsi ilmu. Untuk menjelaskan. Yang sebelumnya tidak tau. Menjadi tau. Menjadi lebih jelas. Lalu yang ke-2, tujuan ilmu adalah untuk memprediksikan. Ini benar adanya. Semakin ber ilmu seseorang, semakin akurat dalam dia memprediksi. Pakar gunung berapi pun bisa memperediksi meledaknya gunung juga karena ilmu. Walaupun kadang tidak akurat 100%, tapi dengan memprediksi, manusia lebih siap dengan segala kemungkinan. Lalu yang ke-3 adalah mengendalikan. Ini adalah level ilmu tertinggi. Ketika ilmu kita sudah cukup mumpuni, kita bisa mengendalikan barang-barang, bahkan manusia manusia di sekeliling kita, bisa kita kendalikan menggunakan ilmu. Jadi tujuan ilmu adalah menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan.". Widih keren. Bu woro adalah keren.



Lalu yang ke empat ini bukan kutipan. Cuman celoteh spontanitas dari pak herka, yang memang menimbulkan efek, "sialan, bener juga. Asem. Ketahuan". Begitulah. Saat itu mahasiswa lewat sliwer sliwer. Dan saya ketemu pak herka lalu salim dan cium tangan. Lalu pak herka berkata "mahasiwa zaman sekarang ki cium tangan ming arep njaluk nilai apek. Ora ono cium tangan kok tenanan pengen menghormati. Rak. Rak ono. Bar cium tangan ngeneki mengko sore neng warung mesti yo do ngrasani aku". Begitulah ucap pak herka. Memang benar. Kami suka ngrasani dosen. Semua dosen selalu kami rasani, dan kami memang ingin dapet nilai A. Selamat pak herka. Anda benar.




lalu ini kutipan saya yang saya kagumi paling akhir. "heh kamu, kamu itu kuliah dapet apa ? Ijazah ? Kalau ijazah besok saya carikan saya mintakan ke rektor, besok langsung yudisium. Silahkan. Tapi ilmumu yg kamu bawa setelah menjadi sarjana apa ? Kopong ?. Pah poh ? Kuliah mbayar larang-larang raentuk opo-opo. Udah. Ini bab dua kok ming koyo koran. Cari lagi, di perpustakan, bab 2 minimal 50 lembar. Biar nanti saya revisi lagi". ( Moch. Slamet ). Enjih pak enjih pak. Jawab saya saat itu.

Minggu, 14 Januari 2018

Pra-Medsos vs After Medsos


Zaman sekarang, medsos ini membuat kita bisa melihat berita lelayu dan berita holiday berdampingan atas bawah. Ini berbahaya, mental pembaca bisa kacau. Level up and down nya terlalu tinggi. Twist nya terlalu tajam, membuat pembaca menggumam,

"ini kenapa ada lelayu malah holiday?" Atau 

"ini kenapa musim liburan malah ada orang meninggal?".


Mungkin itu tak masalah jika mereka tak saling kenal. The real problem is, mereka saling kenal satu sama lain. Mungkin ini cikal bakal rasan-rasan dan ujaran kebencian sedang marak maraknya di indonesia.

Saat ada orang sedih kita malah bersenang-senang itu buruk. Saat ada orang senang kita malah sedih juga membuatnya menjadi tidak nyaman. Keadaan sedih dan senang memang harus dipisahkan. Dan tidak bisa di tabrakan. Dari dulu sebelum medsos, hal itu rapi terlindungi oleh dinding rahasia. Semua sudah ditempatkan pada tempatnya. Di lelayu tidak ada orang selfie, di tempat holiday nggak ada yang sedih menunduk sambil mengelap air mata. Dinding rahasia tersebut menimbulkan efek Seperti, "kemaren kenapa nggak layat ?" "Hah? Siapa yang meninggal ?" Lalu, "kemaren kemana kok nggak ikut ke pantai ?" Hah ? "Kapan ke pantai nya ?". Dan "ketidak tahuan" itu bisa dijadikan sumber pemaklum yang bisa dijadikan sebagai bahan untuk dimaklumi. Kalau sekarang seperti itu tak bisa di makumi. Kamu dituntut harus serba tahu. Ketidak tahuan adalah sebuah lelucon dan akan dikatakan pura pura tidak tau. "Sudah jelas jelas di share di grup, masak nggak tau". Sudah skak mat. Mau alesan apa, yg tidak buka grup menjadi serba salah. Seperti tidak membuka grup adalah sebuah kesalahan. Padahal tidak membuka grup adalah hak asasi manusia kan ? Ya begitulah, semua berubah setelah medsos menyerang. 

Saya berpendapat seperti ini karena saya anak 90-an. Kami tau betul perbedaan yg terjadi di rentang tahun 1990-2010. I think its the greats era when people life. Karena era tersebut adalah era transisi antara cendak ndodok, ke boy-boynan, nekeran, ke tamiya, ke byblet, ke crash gear, ke tamagochi, lalu ke snake dan space impact nokia 2100, baru mulai ke n-gage, ke super shoot soccer, pepsi man, dan harvest moon, ke mxit, friendster, ke game on line counter strike, lalu ke ps2, ke nokia 6600, ke nokia E63, dan terakhir ke blackberry. Lalu android/smartphone datang dan membuatnya menjadi kacau. 

Hanya anak di generasi ini yang bisa membandingkan era sebelum medsos dan sesudah medsos. Anak 90-an jangan sampai punah lah. Ini aset berharga yang harus sering-sering di wawancarai gimana pendapatnya tentang before medsos and after medsos. Sejujurnya saya pribadi sebagai anak 90an lebih memilih hidup tanpa medsos. Karena justru hidupnya lebih tenang karena keterbatasan info. Kalau sekarang, hmm. Kacau. Campur aduk. Apalagi infonya di tambah-tambahi supaya heboh. Info info itu yang membuat Di lelayu ada yg selfie ketawa ketiwi. Di tempat holiday ada yang sedih menangis merengek-rengek setelah lihat hp. Menurut saya Itu sudah tidak sesuai kodrat.

Mungkin kita harus memahami satu hal, ada kalanya tidak tau itu lebih baik daripada mengetahui apa yang seharusnya tidak kita ketahui. 

If you know i mean. 

Sabtu, 30 Desember 2017

Cerdas Upgredable


Hari ini, saya telah sampai di sebuah titik pertanyaan,

"Apakah kecerdasan itu bisa ditingkatkan ? 

Atau bawaan dari lahir ?".

Lalu saya mencoba mencari jawaban di google dan ternyata hanya jawaban diplomatis yang saya temukan. Ada yang bilang bisa, ada yang bilang tidak. Lalu saya kembali berfikir, jika kecerdasan tidak bisa ditingkatkan, berarti pintar dan bodoh memang sudah di ciptakan oleh Tuhan sejak kita dilahirkan. Dan jika memang begitu adanya, jadi kita-kita ini yang "cerdas", seharusnya memaklumi dengan kebodohan mereka, harus menerima kebodohan mereka dengan bijaksana. Jangan di gunjing apa lagi dihakimi menurut persepsi orang cerdas. Mereka akan marah jika di seperti itukan. 

Lalu bagaimana cara membedakan yg cerdas dan yang kurang ? Yang kuliah di UGM cerdas, yang bukan UGM tidak cerdas ? Menurut saya juga bukan begitu. Pasti kalian pernah melakukan tes kecerdasan sewaktu SMP ataupun SMA. Dan disitu menunjukan angka. Jika anda sudah tau skor nya, seharusnya anda sudah bisa berintropeksi. Segeralah ber intropeksi dan terima sajalah bahwa teori "cerdas bawaan dari lahir" itu nyata.

Lalu, bagaimana jika teori itu salah. Bagaimana jika kecerdasan itu bisa di upgrade dan ditingkatkan ? Bukankah itu mengaggumkan ? Jika kita melihat orang bodoh di sekitar kita, kita tidak bisa berpendapat bahwa mereka memang dilahirkan untuk menjadi orang bodoh, tapi kita bisa berpendapat, sepertinya saya bisa mengupgrade kecerdasan nya agar tak bodoh bodoh amat. Dari segi perilaku, dari segi sikap, saya bisa memperbaikinya.

 Saya berifkir, dari otak saya yang paling dalam, saya berfikir bahwa kecerdasan itu bisa ditingkatkan. dengan begitu, satu persatu orang cerdas mulai menyebarkan virus cerdasnya ke orang orang yang terlihat bodoh itu, yang terlihat bodoh di medsos itu, lalu silahkan nyinyirilah dengan bijak, yang bisa menimbulkan efek "oh iya, bener juga ya kata mas nya", dan lambat laun dunia per medsos san di indonesia di kuasai oleh orang cerdas, bukan orang alay.

 Lalu suatu saat, akan ada masa dimana medsos penuh dengan orang toleran, dan saling menghargai pendapat orang lain, dan berperilaku sebagaimana nilai nilai yang terkandung dalam pancasila. Lalu lambat laun masyarakat mulai menyalahkan dirinya sendiri, bukan melulu menyalahkan pemerintah, dan mulai bersama sama membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. 

Mulai membuang sampah pada tempatnya, karena mereka sadar membuang sampah sembarangan bisa membuat kali mampet dan banjir, mulai berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah, karena mereka sadar nylonong bisa menyebabkan kecelakaan. mulai menghentikan motor/ mobil di belakang zebra cross, karena mereka sadar itu adalah jalan untuk pejalan kaki saat menyebrang. mulai tidak njamping njamping di trotoar di saat macet, karena mereka sadar bahwa trotoar itu untuk pejalan kaki bukan untuk njamping njamping menghindari kemacetan. dan mulai sadar bahwa naik mobil dan masuk ke jalur motor di saat ring road sedang macet itu adalah sebuah kesalahan.

jika nanti, ditahun yang baru ini, manusia sudah banyak yang intropeksi , Bukankah itu fantastis ? 

Rabu, 06 Desember 2017

Jangan Menyerah (2)

Sekarang saya lagi berdiri di depan stadion milik salah satu universitas di Yogyakarta. Sambil minum Goodday funtastic moccacino. Iya, minumnya sambil berdiri, biar kayak orang bule. Lagi lagi saya di suguhkan pemandangan seperti yang terlihat. Tujuan saya menulis seperti ini adalah untuk pencitraan semata, agar terlihat seperti orang baik. Padahal kenyataanya, saya adalah pembunuh nyamuk dan tikus paling brutal sepanjang sejarah didirikanya rumah sedayu. Nyawa nyamuk dan tikus saja saya habisi tanpa segan, apalagi cuman nyawa manusia.

Tapi kali ini agak berbeda. Ketika saya sedang asik asik nya naik motor, tiba tiba ada pemandangan nenek tua jual rambutan di pinggir jalan. Lalu saya pura pura nggak lihat. Lalu tiba-tiba ada yang berbisik keras, " Heh nyuk, kae ki yo makhluk-Ku, gekndang tulungono". Lalu saya tengok kanan kiri belakang depan, dan tidak ada orang. Ternyata yang barusan adalah suara bisikan Tuhan. Lalu saya jawab, "Ayolaah Han, kenapa harus saya lagi, saya ini udah kebablasen sekitar 50 meter lo, dan apalagi disana juga ada dosen sliwar sliwer, ada juga mahasiswa calon pemakai slempang cumlaude juga sliwer sliwer, kenapa harus saya yang dibisiki". Lalu Tuhan menjawab, "saya hanya bisa berbisik ke hati manusia yang terbuka".

Aggghh. Lalu dengan sebal saya terpaksa putar balik dan membeli rambutan itu. Harganya lima ribu. Saya beli satu. Satu truk. Ya enggak lah. Cuman satu kardus. Ya enggak juga. Cuman satu iket. Harganya lima ribu. Lalu saya begegas pulang karena saya nggak tahan sama hawa panas di sekitar jalan aspal. Lalu tiba-tiba simbah wedok itu nyletuk, "matur nuwun nggih den". Ah gua dipanggil den. "What ? Den ? Apaan sih den ? Den den mushi ? Gua kagak ngerti yang elu katain mbok ! Udah lah nggak usah sok baik gitu", kata saya dalam hati. Tapi yang terucap dari mulut saya "enjih mbah. Sami-sami". Ah. Gimana sih aku ini. Kata hati sama kata mulut nggak pernah singkron. Emang kampret aku ini. Tapi akhirnya saya tinggalkan simbah itu dengan wajah senang. Oh iya. Pesan saya cuman satu, tetap berjualan kayak gitu juga nggak papa mbah. Yang penting jangan ngemis. Udah itu aja.

Senin, 27 November 2017

Pembangkit Galau Tenaga Hujan


Sialan. Gara-gara hujan, kenangan yang sudah menguap jauh kelangit kembali turun ke bumi. Banyak sekali kenangan yg terjadi dikala hujan. Waktu itu kita masih remaja, yang polos hatinya bercerita ~. Jangan di baca sambil nyanyi. Saya jadi mengingat ngingat beberapa epic moment yang terjadi disaat hujan. Karena hujan ini hadir setiap tahun, jadi mungkin ada sekitar 23 kasus yang bisa saya ceritakan. Tapi saya males. Beberapa saja cukup.

 Yang pertama yang tidak bisa saya lupakan adalah hujan di langit SMA Negeri 7 Yogyakarta. Saat itu hujan sangat deras. Semua berteduh. Kecuali khusnul. Dia sok aksi lari larian kejar-kejaran bersama temanya. Dan akhirnya tepat di depan bangsal wiyata mandala dia kepleset. Kedebug. Begitulah bunyinya. Kakinya bertanduk, hewan apa namanya ? Ya benar. Itulah khusnul. Segrombolan siswa yg berteduh di seberang lautan pun pura-pura tidak melihat sambil menahan tawa. Kalau saya benar benar sudah tak tahan. Saya tertawa sampai kotak tertawa saya hampir habis. Apalagi kalau mengingat-ngingat bentuknya, masyaallah. Limbad pun mungkin nggak kuat menahan tawa. Ah itulah hujan. Bisa membuat orang-orang tertawa.

Tapi gara gara hujan juga saya pernah nyaris terjatuh di jalan raya. Gara gara hujan juga sempak saya jadi banyak yang basah. Tapi hal lain yang menarik dari hujan adalah ketika musim hujan bersamaan dengan hari tanpa bra sedunia. Bisa membayangkan kan ? Perempuan pada tidak pakai bra, terus pada kehujanaan. Terus terlihat ngecap-ngecap. Ah dunia ini sudah gila. Udahlah, tetap pakailah bra mu walaupun hari tanpa bra sedunia !.

 Lalu yang saya ingat-ingat lagi adalah tentang mbak-mbak yang melepas mantol di pinggir jalan. Jadi begini, di indonesia, ada dua tipe mantol, mantol yang pertama adalah mantol yang klebet klebet kayak kelelawar, biasanya bisa dipakai buat berdua. Dan mantol yang kedua adalah mantol egois, yang cara memakainya mirip cara makain baju dan celana biasa. Ada mbak-mbak dipinggir jalan mencoba melepas celana dari mantol egois tersebut. Tapi celana yg didalam, celana panjang yang kayak aladin yang mudah mlotrok itu, ikutan katut mlotrok ketarik mantol yang ketat. Sontak saja saya terkejut melihatnya. Mau pura-pura nggak lihat tapi kok ya ngelihat. Mau mbantuin megangin celananya agar tidak katut mlotrok tapi kok takut dibilang saru. Ya begitulah hujan. Membuat saya jadi galau.

Sebenarnya tujuan hujan datang ke bumi itu baik. Jadi jangan dikeluhkan. Kasus kepleset, kotang ngecap ngecap, sampai celana mlotrok itu hanyalah ulah dari manusia itu sendiri. Hujan itu sudah jauh jauh dari langit turun ke bumi lo. Masak dihindari. Wahai manusia, Jangan bikin hujan kecewa ya !