Sabtu, 21 Oktober 2017

Dimanfaatkan

Saya suka menjadi orang baik. Karena orang baik selalu dimanfaatkan. Ya, saya suka dimanfaatkan, karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Ya kan ? Ya kan ? Rosulluloh pun penah bersabda :
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Tapi teman-teman saya sering kasihan melihat saya. Ada juga yang menggoblok-goblokan, menolol-nololkan dan memekok-mekokkan saya.
 “Heh, elu itu dmanfaatin bego, kenapa lu mau-maunya sih. Ada teman yang jelas-jelas nggak pernah ngembaliin utang minta uang ke elu, masa tetep elu kasih ?”
 “temen yang suka ngrasani elu dibelakang dan ngejelek-jelekin elu di belakang, minta tolong jemput di stasiun, masak elu jemput ?”
Dan lain-lain,
 Dan lain-lain.
 Jadi begini, wahai saudara-saudara ku sebangsa dan setanah air. Orang yang bodoh, alias tolol alias pekok, dia adalah orang yang dimanfaatkan tapi dia tidak sadar kalau dirinya dimanfaatkan. Paham ? oke saya ulangin, orang yang bodoh alias pekok alias tolol itu adalah orang yang dimanfaatkan tapi dia tidak sadar kalau dimanfaatkan. Sedangkan saya, saya sangat sadar bahwa saya dimanfaatkan, dan saya juga tau dia cuman pengen memanfaatkan saya, tapi saya malah bahagia, karena apa , karena itu berarti saya masih berguna dan bermanfaat bagi sesama. Kembali lagi ke sabda Rosululloh, sebaik baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Oke sampai sini paham ? ada pertanyaan ?


Selasa, 26 September 2017

Jika Mati

Jika cicak mati, siapa yang seedih ? kayaknya nggak ada yang sedih. Matinya pun pasti selalu tragis, kalau nggak kegencet di engsel pintu, pasti dia mati dalam keadaan ekor patah karena habis perang melawan embuh.  jika tikus mati, siapa yang sedih ? kayake ini bukan berita duka, ini justru berita bahagia !
“woy ! saya dapaat tikus satu di dapur ! horeeee.” Teriak mama.
Karena kematian tikus adalah kebahagiaan bagi kita semua, termasuk saya.
 jika nyamuk mati, siapa yang sedih ? kayaknya ini justru hasrat kita setiap malam. Jika belum bisa membunuh nyamuk yang telah berhasil mencuri darah dari tubuh kita, itu belum afdol, seperti dendam yang belum terselsesaikan. Nyamuk mati ? oh jelas itu sangat menyenangkan, bagi manusia.
Kalau manusia mati, siapa yang sedih ?
Tergantung manusia itu sendiri, bagaiaman sepak terjangnya selama hidup di dunia. Tapi seburuk-beuruk manusia tinggal di dunia, pasti wartawan selalu nanya,
“buk, gimana pendapat si x si tetangga ibu yang meninggal karena keserempet kereta api karena melanggar palang kereta ?”
Sering kali dijawab, “dia orangnya pendiam mas, jarang kelihatan di rumah.” Pasti cuman gitu yang berani diceritakan oleh ibu. Dia nggak berani bilang bahwa dia suka ngrakit bom, suka nyruti mangga tetangga, tidak suyka berbaur, suka ngutang nggak dibayar-bayar, dan lain lain. Karena naluri manusia, jika melihat manusia lain mati, pasti sedih. Atau wajib sedih. Jika kamu tidak sedih, maka kamu tidak normal.
Tapi jika yang yang meninggal orang baik gimana ? atau nggak perlu orang baik lah, orang yang cukup dikenal di warganya, bnagaiaman pendapat ibu tentang almarhum yang meninggal karena kecebur sungai di saat dia mandi ?
“ ya dia itu orangnya baik, sering berbaur dengan tetangga, dan dan sudah tinggal disini lama”
 Padahal kalau mau nyari aibnya juga ada banget. Ya begitulah, seburuk-buruknya manusiaa, disaat dia meninggal, pasti selalu diperlihatkan sisi baiknya.
Setelah dia mati, lalu apa ? ya masih aja ngrepoptin. Naik mabulan , pakai wiyu –wiyu , nyuruh ornag minggir dijalan, lalu masih ada acara yasinan 7 hari, 45 hari ,100 hari, 1 tahun, 2 tahun ah sungguh merepotkan si manusia ini. jauh berbeda dengan tikus, cicak dan nyamuk.
Lalu kalau besok saya mati gimana ? saya pengen dimandikan dulu, yang bersih ya ! awas kalau nggak bersih, lalu disolatkan. Solatnya yang khusyuk ! jangan tolah toleh, apalagi nggak hafal doa alahuma firlaha ! firlahu atau firlaha hayo ?. nah setelah itu saya pengen naik mabulan, tapi pas lampu warna merah , ya berhenti, hijau ya jalan, harus tetap tertib, walau sudah meninggal. lalu dicarikan tempat pemakan yang biaya pemakamanya nggak mahal, nggak usah beli peti mati yang warna putih itu yang mahal itu. Mahaaaal. Pemborosaaan. Lalu doakan ku setiap saat, nggak cuman pas 7 hari, 45 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 2 tahun. Konsumsinya jangan mahal-mahal, tongseng kambing cukup.
 Kayaknya enak tongses kambing, aku jadi pengen makan tongseng kambing. Ah makan tongseng dulu ah, selagi masih sempet, selagi masih hidup. Jadi gendut ? yang ngangkat besok jadi berat ?
 bodo amat !!


Nb : kalau yang butuh donor darah donor ginjal atau donor organ organ tubuh yang lain silahkan tubuh saya di udel udel nggak papa. Disumbangkan aja, insyaallah onderdilnya masih bagus-bagus semua, bukan perokok, bukan alcoholic, bukan pecandu narkoba, dan rajin olahraga. Asal dengan satu syarat, ngudel-ngudel tubuh saya nya jangan pas saya masih hidup !

Sabtu, 16 September 2017

Sang Pengeluh

sejujurnya, jika kamu ingin membaca chapter ini, kamu harus paham terlebih dahulu tentang bagaimana saya menyikapi sebuah masalah dalam hidup. Dan semua sikap saya terhadap permasalahan hidup, sudah saya bahas di chapter “the power of yaudah”. Dan untuk menjaga uang koin tetap terjaga, kamu harus melihat sisi sebaliknya. Untuk menjaga “ying” tetap “yang”, kamu harus melihat sisi gelapnya. Secara garis besar, manusia dibagi menjadi dua tipe, yang pertama adalah manusia yang selalu bilang
“tenanglah, paling tidak saya lebih baik darinya”.
dan tipe yang kedua adalah, manusia yang selalu bilang ,
“sial ! kenapa hidupku seperti ini ! kenapa mereka lebih beruntung daripada aku ?”.
Mungkin saya sudah terbiasa menyikapi berbagai hal dengan yaudah, tapi bagaimana dengan pengeluh-pengeluh pemula yang beredar di dunia maya ? apakah mereka sama dengan saya ? jawabanya adalah “ya”. Sejujurnya, sebelum saya jadi selomo ini, masa lalu saya penuh dengan keluhan. Sungguh banyak sekali keluhan dalam hidup. Saya masih ingat betul saat saya SD, tumpukan keluhan saya tumpuk-tumpuk menjadi sebuah bukit. Dari keluhan kenapa saya tidak punya PS2, kenapa saya tidak punya otopet, dan kenapa saya berangkat sekolah disuruh naik sepeda ?. dan keluhan-keluhan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu-persatu.
Apakah keluhan itu baik ? ya bisa iya, bisa tidak. Saat saya kecil, media sosial belum ditemukan. Belum ada facebook, twitter, instagram dan medsos lainya. Sehingga jika saya ingin mengeluhkan sesuatu, selalu saya tulis di buku tulis di bagian paling belakang. Hanya saya dan buku tulis yang tau. Sehingga keluhan itu seperti ambisi yang harus saya raih, ambisi dan cita-cita yang hanya saya dan buku tulis yang tau, bukan seperti pengeluh pemula yang sekarang beredar sangat banyak di dunia maya. Asal kalian tahu, mengeluh di media sosial hanyalah tindakan membuang-buang tenaga. Asala kalian sadari, itu hanyalah menularkan energi negatif ke pembaca lain yang merasa sama dengan anda. Apakah keluhanmu akan berakhir dengan like yang banyak dan teman-temanmu yang sok peduli itu ? sepertinya hanya empati sampah yang tidak akan memberikan solusi apa-apa. Dibandingkan dengan saya, keluhan yang saya tulis dibuku jauh lebih bermanfaat untuk saya , tapi tidak untuk buku. Memang kasihan si buku.
Alkisah, pernah suatu ketika, teman saya dibelikan otopet oleh bapak ibunya. Bagi yang tidak tau otopet, itu adalah kendaraan yang sering digunakan poo untuk berkeliling-keliling di bukit teletubies.
“wahai ibunda, kenapa kau tak belikan aku otopet seperti yang dia miliki itu ?, kenapa dia dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan ?” tanyaku.
“wahai anaku, sesungguhnya ibumu tidak punya uang untuk membelikanmu kendaraanmu seperti itu, jika kamu benar-benar menginginkan sesuatu, kamu harus berusaha dengan usahamu sendiri”. Jawab ibu.
Lalu ibu kembali berujar,
“oke baiklah, ibu akan membelikanmu otopet, tapi jika kamu rangking 1 berturut-turut dari kelas 1 sampai kelas 3”
Lalu saya menajwab, “oke, tak masalah, mudah saja bagiku”.
Lalu saya pun langsung belajar dengan khidmat setiap hari. Ditahun pertama saya berhasil menyapu bersih rangking 1, ditahun kedua pun dilaluinya dengan mudah, dan ditahun ketiga dia akhiri dengan fantastis.
“oke ibu , saya sudah ranghking 1 banyak sekali, sekarang silahkan pergi ke toko otopet dan belikan kendaraan itu. Lekaslah !” kata saya dalam hati.
Akhirnya saya mendapatkan apa yang saya inginkan, selama tiga hari berturut saya gunakan otopet untuk berkeliling kampung, lalu di hari ke 4 saya sudah merasa bosan. Lalu saya mengeluhkan hal lain.
Jadi begini teman-teman, intinya adalah, keluhan itu adalah hal yang baik. Manusia harus punya keluhan, harus punya sesuatu yang ingin dia capai, harus ada sesuatu yang harus dia kalahkan. Tapi alangkah baiknya keluhan itu tidak di umbar di media sosial. Cukup hanya kamu dan buku tulis yang tau, lalu, hajar keluhan itu sampai dapat, jika sudah dapat, lekaslah mengeluh untuk hal yang lain. ya begitulah.


Minggu, 20 Agustus 2017

Republic of Mosquito

Untuk para jiwa-jiwa pemberani yang tak pernah takut mati, walau telapak tangan raksasa mengancamu sewaktu-waktu. Sesuap nasi tak terlalu beresiko, itu tak berbahaya. Andai setiap membeli beras kau harus melewati ancaman pembunuhan, kau akan merasakan apa yang kami rasakan.
Sehari tidak menghisap darah kami bisa mati. Kami nyamuk, itu makanan pokok kami, jangan diperdebatkan. Nggak bisa kamu ganti menjadi sirup atau jus jambu. Kami pun berkeluarga, beranak pinak dan sejahtera. Kami harus melahirkan anak nyamuk dari perut ibu yang bergizi. Agar kelak bisa menjadi pejuang darah yang gagah berani, yang tidak mudah mati jika disemprot atau dipukul menggunakan jari.
Kenapa kau bisa semudah itu membunuh keluarga kami ? apa kau Tuhan ? bisa semena-mena berkehendak menentukan siapa yang akan mati hari ini. waktu bayi naluri membunuhmu masih tumpul. Semakin dewasa kau di ajarkan menjadi pembunuh yang ulung. Seolah-olah tindakan pembunuhan nyamuk adalah hal yang wajar. Setelah kau bunuh pun, terkadang masih sering kau patahkan kaki kami untuk menakut-nakuti pejuang kami yang lain.
Sejujurnya, kami tidak takut. Kami adalah pemberani, kemarin rabu kau bunuh ayahku, kamisnya kau bunuh ibuku. Hari jumat ku tantang kau sendiri. Tanpa ayah, tanpa ibu. Akhirnya hari jumat aku pun mati. Mati dengan gagah berani, mati di telapak tangan sang ilahi. Walau hari ini aku mati, teman-temanku akan selalu hadir kembali, selalu ada, selalu nyata, dan berlipat ganda.
Lebih baik mati dibunuh manusia daripada mati dibunuh teman sendiri. Kami sesama nyamuk memiliki jiwa prikenyamukan, sesama nyamuk tak akan pernah salling membunuh. Kalau manusia ? ah memang luar biasa makhluk yang satu ini. jangankan nyamuk, semua hewan aja dibunuh. Belum pernah kulihat ayam mbunuh ayam, kucing mbunuh kucing, nyamuk mbunuh nyamuk.

Kalau manusia mbunuh manusia ?

Sabtu, 19 Agustus 2017

Puisi

Enak jadi tukang parkir di pantai Indrayanti,
Pagi-pagi udah ada di pantai
Piknik teruus !
Jadi gajah di kebun binatang juga enak,
Setiap hari tamasya ke Taman Safari Indonesia
Piknik Teruus !
Jadi penjaga warnet juga enak,
Sewaktu-waktu bisa ngenet
Dan ndownload film/game sepuasnya.
On line teruus !
Enak juga jadi cleaning servis di mall
Setiap hari kerja di mall
Nge mall teruus !
Enak juga jadi penjaga pintu bioskop,
Selalu tau tentang film-film terbaru
Nonton teruus !
Enak juga jadi barista,
Tiap hari pergi ke cafe
Nongkrong teruus !

Ah enaknya, aku ingin jadi semua.



Sabtu, 12 Agustus 2017

Jika Aku Menjadi

Enak enggak sih ngebayangin menjadi sesutu yang lain ? ya nggak taulah, saya kan egois. Maunya dimengerti, tapi nggak mau mengerti. Tapi sekarang saya mau mencoba untuk menjadi sesuatu yang lain. Mencoba mencari sudut pandang lain, dari berbagai hal yang ada di dunia ini. Dan-Dan kemaren sore saya pulang dari kampus melewati ring road bagian selatan. Di perempatan saya melihat sesosok laki-laki atau perempuan, embuh lah ra ngerti, sedang duduk bersandar di tiang lampu. Dia membawa es teh dan sedang berteriak-teriak nggak karuan. Oh siapa dia ? oh jelas dia adalah orang gila. Kenapa dia teriak-teriak ? apa dia sangat bahagia ? ya, saya juga nggak tau. sejak saat itu saya merenung gimana sih rasanya jadi orang gila , gimana sih pola pikir orang gila ? dan bagaimana sih sudut pandang orang gila ? dan mungkin kira-kira akan seperti ini :
“ haii, saya orang gila, saya suka jalan jalan sendirian. Saya nggak punya teman, setiap orang yang saya deketi pasti lari ketakutan. Saya bisa hidup tanpa HP, saya bisa hidup tanpa paketan, saya bisa hidup tanpa TV, saya bisa hidup tanpa rumah, saya bisa hidup tanpa pakaian, dan saya bisa hidup tanpa agama. Soal umur , usia saya bisa di adu dengan anak-anak remaja yang bunuh diri atau ketabrak kereta api saat selfie. Saya punya opsi mati, tapi saya tidak pernah memilih untuk mati. Tak masalah orang-orang melihat tubuh saya telanjang, dijalanan, berlumuran debu, asal terus melangkah, asal terus percaya di depan masih ada sisa makanan di tong sampah, saya akan tetap melangkah. Saya tidak punya agama, saya tidak solat, saya tidak ke gereja, saya tidak ke kuil, dan saya tidak pernah beribadah. Tapi saya percaya tuhan. Saya tidak pernah menghina tuhan, saya selalu berterimakasih kepada tuhan, karena memberikan tubuh yang sempurna, tak kedinginan jika malam hari, dan tak kepanasan jika siang hari. Saya tak pernah bingung tentang hari esok, saya tak pernah takut dengan hari esok. Besok makan apa, besok dapet apa, besok masih hidup atau mati, saya tak pernah menanyakan hal itu ke tuhan. Karena menanyakan hal itu ke tuhan berarti saya telah menghina tuhan. Tuhan sudah mengatur jalan setiap-setiap manusia. Jangan pernah kasihan melihat saya, justru saya yang kasihan melihat anda. Bagaimana bisa ada manusia stres cuman gara-gara uang. Padahal saya hidup sampai sekusut ini pun masih tetap hidup walau tanpa uang. Uang? Untuk apa uang ? beli baju ? beli beli tas ? beli hp ? gengsi ? beli makan ? makan nggak perlu uang. Di tong sampah masih banyak yang bisa di makan. No problem. Kata siapa itu sumber penyakit, kenyataanya saya masih sehat sampai sekarang. Saya masih bisa berjalan, saya masih bisa bernyanyi, saya masih bisa berteriak-teriak sesuka hati. Dan bahkan saya tak pernah merasa kedinginan maupun kepanasan. Saya heran dengan orang jaman sekarang, putus cinta lalu galau, sedih, bahkan ada yang bunuh diri. Emang kenapa kalau buya hamka bilang kalau hidup jangan sekedar hidup ? saya hidup memang sekedar hidup, tapi saya tak pernah merugikan orang lain. Mungkin cuman kencing dan eek sembarangan. Saya sendiri, saya kuat, saya tak membutuhkan orang lain dalam melakukan apapaun. Saya tak butuh siapapun. Saya bisa menjalani hidup ini sendiri. Benar-benar sendiri. Saya siap mati dimana saja, saya siap mati kapan saja, tapi saya tak pernah bunuh diri. Ada orang yang menjadi presiden, ada yang menjadi dokter, ada yang menjadi dosen, ada yang menjadi guru, ada yang menjadi artis. Jika banyak orang sudah begitu, biarlah saya tetap gila seperti ini. bukan soal tampil beda, tapi agar keseimbangan peran tetap terjaga. Kalau semua manusia di dunia ini waras, siapa yang berperan jadi orang gila ? bukankah itu peran yang harus saya jalankan ? ”
Ya kira-kira begitulah mungkin makna teriakan-teriakan orang gila kemaren sore. Wah hebat, ternyata saya bisa tafsir teriakan, saya bisa memahami bahasa orang gila. Salut buat saya sendiri. Tapi sebenarnya peran yang paling membahagiakan di dunia ini bukanlah menjadi orang gila. Tapi menjadi kucing. Kenapa kucing ? karena tinggal ngusap-ngusap bokong ke kaki majikan, langsung di kasih makan. Eh saya mempraktekan mengusap-usap bokong ke kaki ibunda, langsung di gajul. Lebih enakan juga menjadi kucingnya raditya dika, punya kamar sendiri, punya kasur sendiri, dan punya jodoh sendiri ! edan. kalau menjadi kucing kampung sih tinggal di kasih ikan asin pasti seneng banget. Padahal ikan asin nya punya lesung pipi. Eh ternyata ikan manis. Tapi juga sebenarnya peran yang paling kasihan di dunia ini adalah menjadi cacing. Dia selalu tidur di tanah, kadang bersebelahan dengan bangkai manusia dan bangkai-bangkai yang lain. Belum lagi kalau cacingnya melahirkan. Ada cacing keluar dari perut cacing, eh ternyata cacingnya cacingan. Pantesan nggak doyan makan. Hm. Tapi selain yang hidup di tanah, ada juga peran yang kasihan hidup di udara, yaitu menjadi nyamuk. Kenapa nyamuk ? karena nyamuk terbang sendirian. kalau berdua pasti pacaran, kalau bertiga pasti... pasti yang berdua pacaran yang ketiganya jadi setan. Atau jadi obat nyamuk ? ya kalau jadi obat nyamuk sih ketiga-tiganya pasti mati. Ah udah ah, gara-gara  “jika aku menjadi”  aku menjadi gila. Jangan-jangan yang duduk di perempatan kemaren sore sambil bawa es teh sambil teriak-teriak adalah.... cacing ? atau kucing ?


 yaa, bisa jadi.

Kamis, 20 Juli 2017

Asal Muasal Batu.

Manusia itu waktu lahir keluarnya dari mana sih ? kayaknya dari tempat yang menarik. Eh, menarik atau menyedot ? atau menarik untuk disedot ? atau disedot dulu baru ketarik ? ah, ya seperti itulah kira-kira. Tapi itu kan manusia. Kalau batu ? kalau batu sih normalnya keluar dari erupsi gunung berapi. Tapi batu yang ini keluar dari rahim seorang ibu yang sangat kuat. Bayangkan. Mengandung batu selama 9 bulan , kemana-mana membawa batu di perut, masih disambi masak, nyuci baju, nyetrika baju, dan lain-lain, dan lain-lain. Itu kayaknya bukan mengandung, tapi fitness. Berat bayi normal sekitar 2-3 kg. Tapi yang satu ini bukan bayi, ini batu. Ini bisa mencapai 10 kg atau lebih. Sungguh rahim yang sangat kuat yang dimiliki oleh ibunda erta.
Hah ?
Erta ?
Siapa itu ?
20 juli, 23 tahun sebelum masehi. Sebuah batu pualam mengendap di rahim seorang ibu. Dan endapan itu dibuang oleh si ibu karena mengganggu aktifitasnya sehari-hari. Akhirnya sang batu terlahir di dunia yang penuh kepalsuan. Ertha cahya namanya, walau blas nggak ada cahaya-cahayanya kalau melihat sosoknya. Atau sering disebut ertha galagher, atau ertha rock, atau ertahimovic, atau erta el capitano, atau erta al jurmy, atau ertha bustomi. Erta dibesarkan di sebuah lokasi yang sangat mumpuni untuk budidaya jangkrik, walang, dan hewan bertrakea lain. Saya menyebutnya “The Theater of South Mountain”. Batas wilayah timur sering disebut “sir alex fergusemin stand”, batas wilayah selatan sering disebut “street tepusend”, dan batas wilayah barat sering disebut “Sir Bobby Playen stand”. Dari ciri-ciri tersebut sudah jelas dari mana si erta cahya berasal. Erta berasal dari Manchester Guniked.
Karena erta lahir di manchester, erta memegang erat budaya british. The beatles, oasis dan kangen band adalah playlist yang tak pernah luput dari pendengaran kuping imutnya. Emang batu punya kuping ? ya punyalah. Rumah squirdward aja punya kuping. Tapi rumah ertha juga terbuat dari batu. Erta tinggal dibawah batu secara mandiri. Jika ada istilah "ada batu dibalik batu", itu  pasti istilah yang disematkan kepada erta si raja batu. Setelah dibuang oleh ibunya ke laut, erta hidup sebatang batu. Di dalam laut, pekerjaan tetap ertha adalah menonton tv. Bagi erta menonton tv adalah pekerjaan yang rumit. Terkadang dia harus mencari remotnya, terkadang dia harus membetulkan antena dan terkadang dia harus menggaruk bokongnya jika bokongnya terasa gatal. Erta suka menjadi batu. Batu adalah passion erta sejak kecil. Hidup ini memang harus sekeras batu, kamu harus dingin dan tahan banting. Musuh terbesar batu adalah tetesan air. Karena cuman tetesan air yang dapat melubangi batu.

Hari ini memperingati HUT Batu yang ke 23. Saya sebagai wakil batu mengucapkan selamat mengeras dan lebih keras. Semakin tua semakin keras, cuman batu yang bisa begini. Semakin tua semakin mahal, cuman batu yang bisa begini. Tamales ngalu nuhat , kapten !