Senin, 22 Mei 2017
Jumat, 19 Mei 2017
Patah Hati
Setiap manusia memiliki hati, dan setiap hati pasti bisa
patah. Hari ini saya akan menceritakan tentang beberapa patah hati terdahsyat
yang pernah saya alami. Patah hati yang membuat hidup saya berantakan, goyah
dan larut dalam kesedihan. Patah hati yang membuat saya paham apa arti patah
hati dan saya bisa mengambil pelajaran dari kisah patah hati.
Ada beberapa patah yang masih saya ingat sampai hari ini.
Semakin saya mencoba untuk melupakan justru bayang-bayang kenangan semakin
nyata. Hari ini saya akan memberanikan diri menceritakan kisah patah hati
terhebat yang pernah ada.
Semua berawal dari suatu pagi. Pagi itu keadaan
biasa-biasa aja. Burung masih asik bernyanyi nyamuk demam berdarah masih liar
berterbangan dan cicak masih nempel di tembok. Pagi itu semua manusia lapar dan
ingin sarapan. Termasuk saya. Setelah mengantar erin saya pergi ke suatu tempat
yang ada meja dan kursinya. Yang ada tendanya. Yang ada gelasnya, yang ada
mangkoknya, yang ada kecapnya, yang ada sendok garpunya, yang ada mas-mas
berdiri sedang nyiduki sebuah bubur ke mangkok. Itulah warung bubur ayam. Saya membeli
satu , saya bungkus dengan plastik agar lebih mudah dibawa. Kalau saya pegang
pakai tangan nanti buburnya tumpah-tumpah dan sudah dingin sampai di rumah. Saya
pulang dengan rianag gembira sambil nyanyi-nyanyi dijalan. Siapapun yang lewat
jalan raya saya sapa karena saya sedang bahagia. Tetapi tidak satupun yang
membalas sapaan hangat itu.
Sesampainya dirumah bubur langsung saya ambil dan saya
tumplakan ke mangkok. Saya makan dengan lahap sambil melihat sekeliling apakah
ada tikus yang kepengen. Tiba-tiba bubur langsung habis, saya terkejut. Siapa yang
menghabiskan bubur ini ? lalu saya berkaca dan melihat bekas bubur di mulut. Ternyata
yang menghabiskan adalah saya sendiri. Sambil mengelap gabres di mulut, saya
berjalan menuju tempat minum. Selagi saya masih berjalan , saya melihat plastik
putih tergeletak di meja makan. Lalu saya bukak. Dan seketika itu juga saya
berteriak astaghfiruloh sangat keras. Saya langsung tak bisa berkata-kata. Ternyata
krupuk di dalam plastik belum saya makan. Dan bubur sudah terlanjur habis. Seketika
itu juga saya menangis keras sekali. Tikus di belakang lemari tertawa
terbahak-bahak. Cicak pun juga tertawa tapi ditahan karena takut nanti saya
marah di kemudian hari. Saat itu saya merasakan patah hati terdahsyat selama
hidup saya. Kenapa ya allah, kenapa semua ini harus terjadi pada hambamu ini. Hamba
yang selalu menyembahmu, hamba yang kadang-kadang taat beribadah, kenapa ya
allah, Kau memberikan cobaan seberat ini.
Beberapa hari setelah kejadian itu saya jadi nggak mau
makan. Nggak mau makan bubur. Kalau yang lain masih mau makan. Makan banyak
sekali. Beberapa hari berlalu dan saya masih belum bisa melupakan kenangan
kelam itu. Kenangan yang membuat saya ditertawakan tikus dan cicak, kenangan
yang membuat hati saya pecah berkeping-keping tidak karuan. Kerupuk yang
seharusnya dilahap dengan bubur ayam bisa-bisanya terlupakan dan tidak
termakan. Semakin mengingat hati saya semakin sakit. Butuh beberapa bulan untuk
menyembuhkan luka di hati. Dan akhirnya saya berhasil melupakan bubur ayam
seutuhnya. Dan akhirnya setelah kejadian itu saya tidak pernah lupa menuangkan
kerupuk di atas bubur ayam.
Beberapa hari setelahnya, setelah saya berdamai dengan
masa lalu saya yang kelam bersama bubur ayam, saya mencoba merajut harapan baru
bersama indomi goreng. Dulu kami pernah dekat, tapi semenjak ada bubur ayam,
dengan terpaksa saya mejauh dari indomi goreng. Tapi di suatu malam indomi
goreng kembali merayu dan saya tak kuasa menolak aroma indomi goreng. Akhirnya saya
memasak dan memakanya dengan lahap di malam itu. Setelah saya menghabiskan
indomi goreng dan menjilati piring, saya berjalan menuju tempat peminuman. Disaat
melakukan perjalanan menuju tempat peminuman, saya melihat bawang indomi goreng
yang lupa saya taburkan di atas indomi goreng yang sudah matang. Seketika itu
saya berteriak sangat keras. Saya menangis terbahak-bahak sambil
nglesot-nglesot di tanah. Ekspetasi saya yang tinggi dengan melihat bawang
goreng tersaji di atas indomi goreng sirna sudah. Blunder sudah terjadi. Sedih kembali
melanda, semacam mengalami patah hati kedua, tapi saya sudah tidak bisa
berkata-kata. Kekecewaan yang mendalam sudah merasuk kedalam tubuh ini. Susah tidur
melanda gara-gara bawang indomi goreng. Tapi setelah patah hati dengan bubur
ayam saya sudah cukup bisa mengolah hati dengan benar. Akhirnya saya sudah
tidak terlalu galau dengan indomi goreng.
Saya pernah patah hati dengan teh lupa gula, dengan kulit
ayam goreng yang jatuh ke tanah, dengan pinggiran tempe goreng yang di curi
tikus, dan dengan goodday mocacino tanpa coco grandule. Tetapi tak ada patah
hati yang lebih hebat dari bubur ayam dan bawang indomi goreng. Semakin patah
semakin kuat. Cuman hati yang bisa begini.
Senin, 08 Mei 2017
Patimura Open Mic
“ Halo, selamat malam. Perkenalkan nama saya patimura. Hari
ini saya dikerjai sama manusia, nggak tau namanya siapa, tapi tiba-tiba saya di
untel-untel dan dibentuk sedemikian rupa dan tiba-tiba saya jadi terlihat
seperti memegang mic. Sebelum memberanikan diri open mic saya adalah penyanyi. Dan sebelum
jadi penyanyi saya adalah mc dangdut. Dan sebelum menjadi mc dangdut saya
adalah pejuang bangsa indonesia !
Apakah kalian tau saya ? saya adalah patimura, ( atau Thomas Matulessy)
(lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama kapitan patimura, adalah pahlawan Maluku dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia ! ( sumber : wikipedia ). Tapi
sekarang saya dikenal karena nempel di uang seribu. Ironis sekali. Sebagai uang,
saya sering sekali di sia-siakan.
Saya tidak
pernah ditemukan di bank, atm, atau di dompet cewek-cewek matre. Saya sering
dijumpai di kantong saku tukang parkir, dempet anak kost, di kotak amal, kotak
sumbangan, dan juga di kotak kumuh tempat membayar wc umum. Mungkin uang
bergambar antasari dan imam bonjol sependapat dengan saya. Mereka adalah dua
sahabat saya sejak saya dilahirkan. Kami tau kami siapa dan kami cukup tau diri
untuk tidak berteman dengan uang bergambar sukarno&hatta dan i gusti ngurah
rai.
Tapi kami
bahagia sebagai uang receh, kami lebih sering berkunjung ke masjid, mushola dan
kotak-kotak sumbangan dibandingan sukarno-hatta dan ngurah rai. Kami juga
senang hidup bersama tukang parkir, kernet bis kota, dan ibu-ibu tua penjual
sayur mayur di pasar. Mereka sangat menghargai kami, selembar demi selembar
mereka rapikan baju kami yang kumuh, dan kadang kami dletakan di tempat yang
layak. Kami merasa dihargai di tangan mereka , dan mereka masih mau menambal
kami dengan solasi walau tubuh kami hancur sobek berkeping-keping. Terkadang wajah
kami dicoret untuk lucu-lucuan anak alay, tubuh kami di kasih nomer telepon,
dan kadang nomer telepon tersebut dikasih nama cewek cantik. Terkadang di dalam
dompet sebuah cowok alay, kami juga melihat ada foto cewek yang diletakan
berbeda ruang dengan kami. Ingin sekali kami merayu cewek itu tapi kami takut
terkena hukuman masuk ke lubang kotak infaq yang gelap. Ya begitulah.
Melalui
ini saya mau mengucapkan terimakasih untuk orang-orang lecil yang tidak
sombong, yang masih mau merawat kami dengan baik. Dan untuk sokarno-hatta dan
ngurah rai, sapalah kami sesekali karena kami juga ingin berteman dengan
kalian. Sekian dari patimura , wasalamualaikum warohmatulohi wabarakatu ”
Senin, 03 April 2017
Review Tulisan Gila
Sobat. Menulis tulisan “gila” tak semudah yang kalian
bayangkan. Terkadang kamu harus punya jari untuk mengetik tulisan gila. Dan
tidak semua orang punya jari. Setelah punya jari kamu juga harus punya tangan.
Dan tidak semua orang punya tangan. Kamu juga butuh mata, pantat untuk duduk dan
tentu saja otak. Dan tidak semua orang memiliki itu. Untuk menulis tulisan gila
dan agar tidak dibaca kalangan luas, kamu juga harus memiliki henpun/laptop, blog,
dan tentu saja koneksi internet. Dan sekali lagi, tak semua orang memiliki itu.
Jika paketan habis pun saya harus ke jogja tronik untuk mengisi paketan. Itupun
harus naik motor, itupun butuh bensin dan itupun belum ditambah segala ancaman
tak terduga di jalan raya.
Menulis tulisan gila tak semudah yang kalian bayangkan.
Terkadang punggung dan bokong saya terasa gatal saat menulis tulisan gila.
Terkadang saya merasa lapar dan harus mencari makan terlebih dahulu. Terkadang
listrik di rumah saya mati dan terkadang saya disuruh membeli gas oleh ibu.
Sungguh sangat banyak halangan untuk menulis tulisan gila.
Terkadang sesekali lutut saya digigit semut dan bebanyak
kali kuping saya digigit nyamuk. Terkadang kamu juga butuh kopi atau minimal
teh panas untuk menulis tulisan gila. Dan membuat teh panas ataupun kopi
memakan waktu yang cukup lama. Terkadang gula habis, dan saya harus ke warung.
Terkadang warung tutup dan saya harus ke indomaret. Sampai toko uangnya kurang
dan saya harus kembali ke rumah. Setelah mengambil uang dan akan kembali ke
indomaret ternyata di jalan ada kecelakaan. Jalan jadi macet. Saya nggak pakai
helm. Ikut ketangkep polisi, dan dibawa ke polsek untuk di interogasi. Laptop
saya masih nyala di rumah menunggu penulisnya kembali pulang. Hanya menulis
kata dengan 4 huruf pun susahnya minta ampun. Percayalah. Menulis tulisan gila
bisa membuat anda gila. Memang terlihat gampang, tapi susah di jalanin.
Ada yang bilang “orang genius sering dikatakan wataknya
mendekati orang gila”. Jangan-jangan orang gila di pinggir jalan yang nggak
pakai pakaian itu sebenarnya genius ? entahlah. Hanya saya yang tau.
-Orang gila. 3-4-2017
Senin, 13 Maret 2017
13 Maret 2017
!3 Maret duaribu tujuhbelas. Hari ini saya ulang tahun.
Umur 23. Kira-kira masih 60 tahun lagi sisa nyawa saya di bumi. sekarang jam
00.01 tanggal 13 waktu indonesia bagian barat. Sengaja saya begadang, siapa
tau ada yang ngucapin ulang tahun dini
hari, atau siapa tau ada yang ngetuk pintu kamar dan bawain kue ulang tahun pas
dini hari. Siapa tau. Kalau beneran ada yang mbawain roti malem-malem dini
hari, saya pasti pura-pura tidur dulu, biar mereka nggak kecewa, biar
surprisnya terlihat berhasil. Tapi saya tungguin sampai adzan subuh. Nggak ada
yang mbawain roti. Boro-boro mbawain roti, ngucapin ulang tahun juga nggak ada.
Akhirnya saya tidur, tidur beneran.
Sekarang jam 7 pagi, ada beberapa sahabat yang
mengucapkan, tapi kalimat ucapan yang muncul lebih menjurus ke umpatan, seperti
selamat ulang tahun lumba-lumba, calon jenazah, pemanjat tower, orang gila,
hewan kaki empat, dan lain-lain. Sekarang jam 12 siang. Saya bangun tidur.
Notif di HP sepi, nggakada yang ngucapin, yaudah nggak papa. Biasanya juga gitu
di tahun-tahun sebelumnya. Tapi tiba-tiba HP bergetar, ada notif ! dari
siapakah itu !? ternyata dari facebook. Admin facebook yang ngucapin ulang
tahun. Hebat. Aplikasi facebook yang terbaru bisa mengucapkan ulang tahun.
Untung saya upgrade, alhamdulillah.
Hari ini ada ibu marah-marah. Gara-gara rumah berantakan
, kamar berantakan, bangun tidur siang-siang, Marah-marah banget. Tapi saya
melah senyum-senyum, ini pasti mau buat surprise, mau buat saya sedih dulu, mau
buat saya nangis, lalu tiba-tiba ada yang mbawain roti dari belakang, sambil
nyanyi selamat ulang tahun, pasti gitu. Saya yakin. Ini skenario klasik,
mahasiswa tidak cumlaude aja tau skenario kacangan seperti ini. Ibu masih
melanjutkan marah-marahnya, saya masih clingak-clinguk nungguin siapa yang akan
keluar dari belakang mbawain roti. Marah semakin menjadi-jadi, mulai membanting
pintu, saya semakin berdebar-debar kejutan apa yang akan muncul. Lalu marah
mereda, ibu pergi, lalu keadaan sepi. Nggak ada apa-apa, nggak ada yang mbawain
roti dari belakang, nggak ada yang nyanyi selamat ulang tahun. Bener-bener
nggak ada. Ternyata tadi ibu marah beneran.
Hari ini saya masih ulang tahun, sengaja nggak mandi,
siapa tau ada temen yang main ke rumah bawa tepung sama telur. Siapa tau. Nanti
kalau pada ramai-ramai megangin, saya pura-pura melawan, pura-pura memberontak,
padahal sebenarnya seneng, karena ada yang merhatiin. Nanti saya di iket pakai
tali, saya akan pura-pura ke iket, padahal sebenarnya bisa saja saya melepas
tali. Biar pada seneng aja nglemparin saya pakai tepung , pakai telur. Tapi itu
masih rencana, ternyata sampai maghrib nggak ada yang datang ke rumah. Akhirnya
saya mandi, tanpa tepung, tanpa telur.
Hari sudah malam, tanggal 13 nya sudah mau habis. Saya
juga sudah mau tidur. Saya buka fb lagi, beberapa temen SMP yang tidak saya
kenal mengucapkan selamat ulang tahun. Mungkin dia mengucapkan karena ada
notifikasi di beranda facebook. Mungkin. Saya tungguin sampai jam 23.59,
biasanya orang-orang sepesial ngasih ucapanya di akhir-akhir. Ternyata tetep
nggak ada.
Sejak saya kecil, ketika saya ulang tahun, saya jarang
mendapatkan kado. Pernah sekali waktu masih SD, dari bulek.yaitu mainan
tank-tank an yang kalau nabrak tembok bisa njepalik dan berdiri sendiri.
Menurut saya itu kado yang paling keren, dan masih saya ingat sampai sekarang.
Ya begitulah, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya,
ini hari ulang tahunku, bagaimana dengan hari ulang tahunmu ?
Senin, 13 Februari 2017
Sorry, I'm Genius !
Selamat siang Myanmar ! sepertinya jam dosen selalu
rusak. Mahasiswa telat dimarahin, dosen telat mahasiswa nggak berani marahin. Mau
marah ke dosen takut nilai nggak keluar, udah nahan untuk nggak marah ke dosen,
eh nilai tetep nggak keluar, dasar !. ini hanya secuil kisah kasak
kusuk mahasiswa semester akhir. Mahasiswa yang jarang solat. Jadi hidupnya
dipersulit sama Tuhan, sama dosen juga. Kalau mahasiswa alim mungkin hidupnya
lebih dipermudah sama Tuhan, tapi tetep dipersulit sama dosen. Dosen is the
real god. Jarang solat dipersulit dosen, rajin solat juga dipersulit. Eh sama
aja ternyata. Yaudah mending rajin solat tapi dipersulit.
Yang nggak dipersulit dosen itu cuma anaknya dosen atau
anaknya rektor, yang kuliah di kampus bapak ibuknya. Atau mahasiswa yang mau di
D.O. pasti dipermudah, dipercepat. Harus punya kemalesan tingkat dewa biar jadi
mahasiswa nyaris D.O. padahal dewa aja belum tentu punya kemalasan tingkat
dewa. Jangan meremehkan orang malas, karena tidak semua orang bisa semalas itu.
Hobinya main futsal sama main bola, gaya
sok asik sok keren sok senior padahal waktu bimbingan skripsi sukanya cium tangan dosen. Padahal dosen aja
nggak nyium balik. Percuma. Padahal mahasiswanya lebih tua daripada
pembimbingnya.
Barusan saya sedang menceritakan tentang saya. Sekarang saya
sedang bersandar di tembok GOR UNY bagian barat. Depan ruang dosen bagian
perempuan. Udah janjian ketemu jam 8 pagi. Saya sudah sejak jam 8 pagi tadi
duduk di sini, sambil megang HP, sendirian. Sekarang sudah jam 11. Sesekali saya
bentur-benturkan kepala belakang saya ke tembok biar otak kecil saya memar lalu
hilang ingatan. Eh enggak, biar rasa sakit di kepala bisa menutupi rasa sakit
di hati. Halah.
Mungkin begini rasanya jadi pengangguran. Padahal pengangguran
juga nggak gini-gini amat. Akhirnya saya merenung.... didalam perenungan, saya
berbicara dengan saya :
“ saya merasa diri saya seperti penemu teori gravitasi. Sama-sama
duduk, sendirian, bersandar. Tapi dia bersandar di batang pohon apel, saya di
batang GOR UNY. Ngapain seorang Isaac Newton bersandar di pohon apel
siang-siang ? jangan-jangan dia juga menunggu dosen pembimbing ? oh atau
jangan-jangan dia pengangguran sejati ? lalu lihat apel jatuh lalu dijadiin
teori ? perhatikan contoh lain, si Archimedes, dia menemukan hukum archimedes
ketika dia lagi ngapain? Ya betul, dia lagi lagi berendem di air. Mungkin dia
lagi ngalamun, pengangguran juga, cuman lihat air kok pada tumpah-tumpah, lalu
dijadiin teori. Dan sampai sekarang kedua orang tersebut disepakati sebagai
manusia jenius. Anak-anak, Coba pikirkan kembali, sebenarnya ilmu-ilmu dahsyat
itu berasal dari orang yang sibuk bekerja atau dari seorang pengangguran ?
percayalah, sekarang saya sedang mendekati kejeniusan sejati menyamai Newton
dan Archimedes !” lalu akhirnya Bu Erlina pun datang merusak perenungan dahsyatku barusan. menghentikan perenungan siang
itu, pukul 11.15 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)
