Minggu, 26 Mei 2019

Nivor

Namanya nivor. Dia memiliki nama panjang Sultan ertanto anarki alinea paradox adolf hitler poseidon karnivora rimadhona arctica islandica kalifatulloh II. Yang memiliki arti Raja yg memiliki kepribadian untuk menciptakan kekacauan, dan bahkan memulai kekacauan, yang kadang kekacaunya membawa kebenaran, walaupun harus terlihat bengis seperti adolf hitler. Juga memiliki kemampuan menguasai lautan yang hobi mengonsumsi daging serta memiliki jiwa setia welas asih dan penyayang. Diharapkan memiliki umur sampai ratusan tahun dan semoga memiliki rasa tanggung jawab sebagai manusia di bumi untuk melindungi kedua orangtua nya. Nama nivor masih akan terus di perpanjang sampai batas waktu yang tidak ditentukan. To be continued.

Rabu, 15 Mei 2019

Namanya Rima


Namanya Rima. Sering dipanggil satu dua tiga empat rima. Kadang dipanggil do ri ma fa sol la si do. Pernah juga di panggil diego armando rimadhona. Pokoknya namanya banyak. Rumahnya cimahi tapi lebih sering ngaku-ngaku orang bandung. Rumah kakaknya juga cimahi, 21 tikungan kanan, 17 tikungan kiri, kalau dari asrama UPI. Warna cat rumahnya hijau, didalemnya ada kakaknya yg baik karena ngasih makan lontong tahu. Suka minum es tapi esnya dikit. Suka coklat tapi malu kalau pakai baju coklat ASN. Pernah jalan kaki dari jalan raya ke pintu masuk stasiun kiaracondong. Entah kenapa dia seberkorban itu. Katanya dia juga nggak tau, kakinya bisa gerak sendiri ceunah. Dia suka lupa naruh kunci, naruh dompet. Sayangnya dari dulu kunci dan dompetnya nggak ilang-ilang. Dia kalau senyum bagus, aku suka. melihat senyumanya merupakan pengalaman memukau yang tak ada seorangpun bisa menandinginya walau ada 7 miliar manusia di bumi. Entah berapa tahun dia latihan tersenyum dan berapa kali repetisi yang dia lakukan sampai bisa menciptakan senyum semelengkung itu. Senyumanya seolah-olah bisa menyelesaikan segala permasalahan hidup. Mesin karcis UPI pun sepakat. Dan alhamdulilahnya senyumanya selalu menyenangkanku. Bisa bisanya Tuhan mencipatan senyum seperti itu. Padahal senyumnya tanpa lesung pipi, tapi manis. Bisa bisanya. Udah ah, cuman mau ngingetin aja, Jangan suka senyum sembarangan. Senyummu berbahaya. 

Dadaaaaah.

Minggu, 07 April 2019

Roda Kehidupan


Ketika semua target hidupmu lepas dan tak ada satupun yang tercapai. Ketika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin dan tetap berjumpa dengan kegagalan. Ketika semua jenis ibadah wajib dan sunah sudah dijalankan dan target-targetmu tetap saja tak pernah tepat sasaran. Ketika suara air menetes terdengar begitu jelas di telingamu. Suara longlongan serigala menggema dihatimu. Detak jam dinding berbunyi di nadimu. Sepi. Sangat sepi. Tak ada satupun yang peduli. Tak ada satupun yang menolong. Ketika kamu berada di titik putus asa paling dahsyat. Dengarlah .. you are not alone. Masih ada yg senasib denganmu. Jangan bunuh diri, walaupun aku tau kamu sangat ingin. Roda kehidupan yang berputar itu memang omong kosong. Memang benar roda kehidupan itu berputar, tetapi secara horizontal. Yang dibawah akan selamanya dibawah dan yang diatas sudah jelas nggak mau kebawah. Kita hanya perlu duduk-duduk dibawah sambil melihat mereka berputar-putar diatas. Kita disini saja sambil menunggu mati. Sambil tancapkan dalam hati : kamu sudah melakukan yang terbaik selama ini. Besok kita coba lagi, Jangan hukum diri sendiri. Terima kasih sudah berusaha sampai hari ini.
Semoga roda kehidupan kita lekas diangkat. berputar normal secara vertikal. Semoga saja begitu. Semoga.

Sabtu, 16 Februari 2019

Brontosaurus

Malam ini aku ingin menjadi brontosaurus, agar bisa mengintipmu langsung dari luar jendela. Tak perlu turun tangga, tak perlu bertemu di loby. Kita ngobrol saja lewat lubang jendela. Kamu berbicara tentang hari ini, aku juga berbicara tentang hari ini. Heh kamu, sekarang aku sudah menjadi brontosaurus. Kamu tak perlu repot-repot turun dari atas untuk mencari makan. Biar aku saja yang belikan, biar aku saja yang bawakan. Kamu tinggal menunggu di jendela, kugigit plastik makananmu, langsung ku angkat ke depan jendelamu. Jika kamu mulai lelah turun tangga, prusutan di leherku juga ide yang bagus. Nanti kamu pegang leherku. Lalu kamu tinggal mak plusut langsung sampai lantai paling bawah. Kalo kamu capek naik tangga, taruh saja pantatmu dihidungku, duduk saja disitu, nanti kuangkat kamu ke jendela kamarmu. Nanti kamu sedikit melakukan aksi akrobatik untuk masuk melewati celah celah jendela kamarmu. Menyenangkan menjadi brontosaurus, tapi kalau hujan susah nyari tempat berteduh. Pakai payung juga cuman kepala aja yang ketutup. Ah aku mau sepayung denganmu. Tapi payungnya pasti nggak cukup. Ah, aku tak mau punah sebelum sepayung denganmu. Aku harus buat payung seukuran gymnasium. Biar kita bisa sepayung. Oiya, kenapa hari ini aku banyak ngomong. Padahal aku sudah berjanji untuk mengurangi kata-kata. Yaudahlah. Hari ini kuota kataku sudah mau habis, tinggal sisa 3 kata : aku sayang kamu.

Jumat, 08 Februari 2019

Asrama, Asmara


Menyeruput teh Thailand. Sambil membangkitkan kata-kata yang mulai kehilangan daya K.O nya. Kata-kata yang sudah tidak lagi powerful dan sudah turun kasta dari heavyweight ke kelas bantam. Kehidupan asrama yang semakin hari semakin endang bambang gurindang ini membuat tubuhku semakin teng plekenyik dan semakin bujel untuk memulai, memilah, dan memilih kata. Apalagi ditambah kisah asmara di asrama yang semakin hari semakin membuatku ingin memasukan kepala mereka ke roda pit anak-anak kecil lalu di gowes sak kemenge sampai timbul suara brett-ebret-ebret-ebreeeet tel sampai ndas-ndas mereka ucul. Satu persatu para buaya menampakan dirinya dan berusaha meng unboxing hati para betina incaranya. Para kuceng genit nan kecil yang berusaha mengrawut-grawut dengkul untuk menyadarkan mereka pun di abaikan. "Meong meong meong", yang kurang lebih artinya "ada kekasihmu yang menunggu di daerah asalmu, kenapa kalian sebrengsek ini" pun tak di gubris. Insting buayanya menjagal, jagal apa saja yang penting mereka senang, mereka menang. Persyetan kekasih di daerah pada susah karena aku, yang penting asyik, sekali lagi ~ Asyiiiiiiik. Ya beginilah kehidupan asmara. Ya begitulah kehidupan asrama. Kandang para buaya jantan dan betina.


Jumat, 14 Desember 2018

Singgah tak Sungguh


Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terima kasih usap-usap rambutnya.

Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terimakasih lambai-lambai tanganya membantu motor saya berbelok.

Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terimakasih pukulan dan cubitan di punggung dan pundak.

Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terimakasih telah bersungguh-sungguh di dalam ketidak sungguhan.

Kamis, 01 November 2018

Bandung Deui


Priiiiiiiiiiiiiittt.
Peluit di bunyikan. Tanda perjalanan sudah dimulai. Masinis mulai menggulirkan rodanya. Terlihat anak kecil Mendadah-dadahkan tangan dari luar jendela. Entah terinspirasi oleh siapa, entah pak Harto, entah Obama. Bandung lagi. Lagi lagi Bandung. Harus kembali bertemu dengan Braga dan sekitarnya. Jauh-jauh ke bandung cuman buat ketemu Braga. Kalau Braga sih, dulu di Sleman juga ada, nomer punggung dua delapan.

Otakku dua. Berada di dengkul kanan dan kiri. Kita Harus bersiap. Sebelum tertekuk kurang lebih selama 8 jam. Kadang aku ingin jadi arem-arem, enak banget. dimanapun tempatnya, tubuhnya selonjor terus. Tapi aku urungkan niat menjadi arem-arem. Aku takut dijual pak kabul.

Selanjutnya aku tertidur selama beberapa jam di dalam kereta murah, Ku tutup wajahku dengan kertas koran tabloid bola edisi terakhir, "hei lihat itu, wajahnya di tutupi koran. Kayak korban tabrak lari". Bisik-bisik orang dari kejauhan. Suaranya yang teng plekenyik tak aku hiraukan. Cuman sedikit berdoa dalam hati, "semoga ndasnya ketiban koper dari atas, amin".

Ditengah mata kriyip-kriyip, terdengar langkah kaki balita berjalan dengan terhuyung-huyung doyong kanan doyong kiri, memakai sepatu cacit cacit di dalam kereta. Dari segi keilmuan yg saya miliki, manusia dewasa akan kesusahan berdiri di atas kereta, apalagi.. braaaak ! Lalu njlungup beneran. "Mampos kao bocah !", kataku dalam hati. Nangis dia, ibunya entah kemana, Begitulah getirnya fakta hidupmu. Tapi nggak perlu nangis juga sih. Cengeng amat jadi bayi. Gitu aja nangis. Bayi memang nggak pernah bisa bersikap dewasa. "Dasar childist", Gumam dalam hati.

Perjalanan menyebrangi punk hazard sepertinya akan segera berakhir, bersamaan dengan berhentinya tangis balita anoying. Setelah beberapa hari tubuh dan wajah ditampar habis-habisan oleh matahari jogja, akhirnya saya akan kembali ke sisi lain dari punk hazard. Saya akan kembali berlatih menjadi orang dingin. Dingin hati, dingin sikap, dingin pikiran, dingin-dingin empuk juga.

Benar memang. Sebagai orang Jogja hanya dihadapkan dengan dua pilihan. Tetap tinggal, tapi harus siap ditinggal oleh orang-orang terbaik. atau pergi, meninggalkan orang-orang terbaik. Bunda, menangislah. Karena Jogja memang kota yg diciptakan dari air mata orang-orang yang harus pergi dan ditinggal pergi.

See you jogs !