Sabtu, 16 Februari 2019

Brontosaurus

Malam ini aku ingin menjadi brontosaurus, agar bisa mengintipmu langsung dari luar jendela. Tak perlu turun tangga, tak perlu bertemu di loby. Kita ngobrol saja lewat lubang jendela. Kamu berbicara tentang hari ini, aku juga berbicara tentang hari ini. Heh kamu, sekarang aku sudah menjadi brontosaurus. Kamu tak perlu repot-repot turun dari atas untuk mencari makan. Biar aku saja yang belikan, biar aku saja yang bawakan. Kamu tinggal menunggu di jendela, kugigit plastik makananmu, langsung ku angkat ke depan jendelamu. Jika kamu mulai lelah turun tangga, prusutan di leherku juga ide yang bagus. Nanti kamu pegang leherku. Lalu kamu tinggal mak plusut langsung sampai lantai paling bawah. Kalo kamu capek naik tangga, taruh saja pantatmu dihidungku, duduk saja disitu, nanti kuangkat kamu ke jendela kamarmu. Nanti kamu sedikit melakukan aksi akrobatik untuk masuk melewati celah celah jendela kamarmu. Menyenangkan menjadi brontosaurus, tapi kalau hujan susah nyari tempat berteduh. Pakai payung juga cuman kepala aja yang ketutup. Ah aku mau sepayung denganmu. Tapi payungnya pasti nggak cukup. Ah, aku tak mau punah sebelum sepayung denganmu. Aku harus buat payung seukuran gymnasium. Biar kita bisa sepayung. Oiya, kenapa hari ini aku banyak ngomong. Padahal aku sudah berjanji untuk mengurangi kata-kata. Yaudahlah. Hari ini kuota kataku sudah mau habis, tinggal sisa 3 kata : aku sayang kamu.

Jumat, 08 Februari 2019

Asrama, Asmara


Menyeruput teh Thailand. Sambil membangkitkan kata-kata yang mulai kehilangan daya K.O nya. Kata-kata yang sudah tidak lagi powerful dan sudah turun kasta dari heavyweight ke kelas bantam. Kehidupan asrama yang semakin hari semakin endang bambang gurindang ini membuat tubuhku semakin teng plekenyik dan semakin bujel untuk memulai, memilah, dan memilih kata. Apalagi ditambah kisah asmara di asrama yang semakin hari semakin membuatku ingin memasukan kepala mereka ke roda pit anak-anak kecil lalu di gowes sak kemenge sampai timbul suara brett-ebret-ebret-ebreeeet tel sampai ndas-ndas mereka ucul. Satu persatu para buaya menampakan dirinya dan berusaha meng unboxing hati para betina incaranya. Para kuceng genit nan kecil yang berusaha mengrawut-grawut dengkul untuk menyadarkan mereka pun di abaikan. "Meong meong meong", yang kurang lebih artinya "ada kekasihmu yang menunggu di daerah asalmu, kenapa kalian sebrengsek ini" pun tak di gubris. Insting buayanya menjagal, jagal apa saja yang penting mereka senang, mereka menang. Persyetan kekasih di daerah pada susah karena aku, yang penting asyik, sekali lagi ~ Asyiiiiiiik. Ya beginilah kehidupan asmara. Ya begitulah kehidupan asrama. Kandang para buaya jantan dan betina.


Jumat, 14 Desember 2018

Singgah tak Sungguh


Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terima kasih usap-usap rambutnya.

Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terimakasih lambai-lambai tanganya membantu motor saya berbelok.

Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terimakasih pukulan dan cubitan di punggung dan pundak.

Untuk kamu,
Yang pernah singgah tapi tak sungguh.
Terimakasih telah bersungguh-sungguh di dalam ketidak sungguhan.

Kamis, 01 November 2018

Bandung Deui


Priiiiiiiiiiiiiittt.
Peluit di bunyikan. Tanda perjalanan sudah dimulai. Masinis mulai menggulirkan rodanya. Terlihat anak kecil Mendadah-dadahkan tangan dari luar jendela. Entah terinspirasi oleh siapa, entah pak Harto, entah Obama. Bandung lagi. Lagi lagi Bandung. Harus kembali bertemu dengan Braga dan sekitarnya. Jauh-jauh ke bandung cuman buat ketemu Braga. Kalau Braga sih, dulu di Sleman juga ada, nomer punggung dua delapan.

Otakku dua. Berada di dengkul kanan dan kiri. Kita Harus bersiap. Sebelum tertekuk kurang lebih selama 8 jam. Kadang aku ingin jadi arem-arem, enak banget. dimanapun tempatnya, tubuhnya selonjor terus. Tapi aku urungkan niat menjadi arem-arem. Aku takut dijual pak kabul.

Selanjutnya aku tertidur selama beberapa jam di dalam kereta murah, Ku tutup wajahku dengan kertas koran tabloid bola edisi terakhir, "hei lihat itu, wajahnya di tutupi koran. Kayak korban tabrak lari". Bisik-bisik orang dari kejauhan. Suaranya yang teng plekenyik tak aku hiraukan. Cuman sedikit berdoa dalam hati, "semoga ndasnya ketiban koper dari atas, amin".

Ditengah mata kriyip-kriyip, terdengar langkah kaki balita berjalan dengan terhuyung-huyung doyong kanan doyong kiri, memakai sepatu cacit cacit di dalam kereta. Dari segi keilmuan yg saya miliki, manusia dewasa akan kesusahan berdiri di atas kereta, apalagi.. braaaak ! Lalu njlungup beneran. "Mampos kao bocah !", kataku dalam hati. Nangis dia, ibunya entah kemana, Begitulah getirnya fakta hidupmu. Tapi nggak perlu nangis juga sih. Cengeng amat jadi bayi. Gitu aja nangis. Bayi memang nggak pernah bisa bersikap dewasa. "Dasar childist", Gumam dalam hati.

Perjalanan menyebrangi punk hazard sepertinya akan segera berakhir, bersamaan dengan berhentinya tangis balita anoying. Setelah beberapa hari tubuh dan wajah ditampar habis-habisan oleh matahari jogja, akhirnya saya akan kembali ke sisi lain dari punk hazard. Saya akan kembali berlatih menjadi orang dingin. Dingin hati, dingin sikap, dingin pikiran, dingin-dingin empuk juga.

Benar memang. Sebagai orang Jogja hanya dihadapkan dengan dua pilihan. Tetap tinggal, tapi harus siap ditinggal oleh orang-orang terbaik. atau pergi, meninggalkan orang-orang terbaik. Bunda, menangislah. Karena Jogja memang kota yg diciptakan dari air mata orang-orang yang harus pergi dan ditinggal pergi.

See you jogs !

Kamis, 11 Oktober 2018

Fauzan dan Ludahnya



Bandung, Home base nya bala-bala, cilok, cireng, tahu bulat, makaroni, siomay, dan seblak. Sekelompok gudeg mania dan arem-arem mania mencoba away day ke bandung untuk mendukung apa yang ingin mereka dukung. Pertandingan di mulai. Seisi stadion bergemuruh meneriakan chant rasis terhadap gudeg, arem-arem, dan bakwan. "Bala-bala, gorengan sama saja, asal jangan bakwan, bakwan itu bala-bala ~" 
Dilanjutkan chant berikutnya, "lontong sayur lontong nasi sama saja, asal jangan arem-arem, arem-arem itu lontong sayur~".

Merasa terpojokan, gudeg mania membalas dengan chant, "gudeg arem arem, kita saudara. Gudeg arem-arem kita saudara, bumi itu bulat, tahu itu datar !"

Keadaan yang semakin memanas membuat kondisi stadion semakin tidak kondusif. Ditengah ketidak kondusifan, ada arem-arem yang memegang erat tangan bala-bala. "Bala-bala, aku mencintaimu". Lalu bala-bala menjawab "akang arem-arem, aku juga mencintaimu, tapi orang tuaku tidak akan menyetujui jika aku menikah dengan arem-arem". Lalu sekumpulan bala-bala mania menarik bala-bala untuk menjauhi si arem-arem. Genggaman tangan mereka terlepas "lepaskan neng bala-bala, dia kekasihku ~". Lalu bala-bala menjawab , " akang arem-arem, tolonglah akkk..... " lalu pintu helikopter ditutup. Neng bala-bala dibawa pergi menggunakan helikopter. Bersambung.

Rabu, 08 Agustus 2018

Kuliah Umum Dosen Sapi


Beberapa hari menjelang hari pembantaian kambing dan sapi secara besar-besaran, saya pun berusaha mewawancarai sapi yang tanggal kematiannya sudah ditentukan oleh manusia.
Hay sapi, apa kabar ?
moooooooh
Bagaimana perasaan anda menjelang hari kematian anda ?
emoooooooh
Ayolah jangan emoh-emoh terus. Beri saya penjelasan yang detail mengenai perasaan anda saat ini.
Lalu sapi pun  memulai perkuliahan hari ini dengan pertanyaan,
pernah nggak sih kalian hidup hanya untuk mati ?sepersekian detik saya merenung.
Ditengah renungan saya, dia kembali menghentak dengan pertanyaan kedua,
pernah nggak sih kalian membayangkan perasaan saya sebagai suami, melihat susu bojo saya di remas-remas oleh laki-laki lain ?
Saya kembali merenung. Sialan. Kenapa saya jadi merasa bersalah begini.
Sesungguhnya setiap hari kalian telah meminum susu bojoku, kalian telah melakukan sexual harassment kepada bojoku, tapi kami tidak pernah mengadu kepada siapapun. Jika itu di pidanakan, kalian sudah pasti terkena pasal pelecehan seksual dengan hukuman seumur hidup karena melakukanya secara ber ulang-ulang. Itu dosa kalian yang pertama. Dosa kalian yang kedua, kalian membunuh bapak ibu sapi tanpa memikirkan perkembangan psikologi anak sapi. Semua sapi di dunia ini adalah yatim piatu, hidup tanpa bimbingan orang tua, tapi mereka tidak pernah keluar malam, melakukan klitih dan tidak pernah mabok-mabokan. Padahal mereka bisa saja mengonsumsi jamur di tai nya sendiri untuk merasakan sensasi nge-fly, tapi tidak dia lakukan karena mereka tau apapun yang memabukan adalah haram. Apakah kalian pernah berfikir sampai sejauh itu tentang sapi ?
Saya tidak bisa menyanggah argument sapi yang memiliki kebenaran mutlak tersebut. Oke dosen sapi, anda benar-benar membuka cakrawala saya. kini wawasan saya jauh lebih terbuka setelah mendengar pendapat anda.
Pertanyaan saya yang berikutnya, bagaimana anda bisa hidup tanpa HP, tanpa paketan, dan tanpa pakaian ? lalu apa yang anda rasakan  menjadi sapi Idul Adha ?

saya bisa hidup puluhan tahun tanpa hal-hal tersebut. Menurut saya hal-hal tersebut tidak penting. Coba lihatlah kakek nenek kalian, mereka tetap bisa bertahan hidup tanpa HP dan koneksi internet. Yang membedakan hanyalah mereka pakai pakaian dan saya tidak memakai pakaian. Tak masalah orang-orang melihat tubuh saya telanjang di dalam kandang. Berlumuran tanah, berlumuran debu, asal masih bisa berdiri dan masih bisa mengunyah makanan yang disediakan, semua akan tetap baik-baik saja.
Sejujurnya saya tidak punya agama, karena saya dibesarkan tanpa ayah dan ibu, karena mereka selalu disembelih terlebih dahulu sebelum saya menginjak usia dewasa, saya tidak solat, saya tidak ke gereja, saya tidak ke kuil, dan saya tidak pernah beribadah. Tapi saya percaya dengan Tuhan. Saya tidak pernah menghina Tuhan, saya selalu berterimakasih kepada Tuhan karena memberikan tubuh yang sempurna, tak kedinginan jika malam hari, dan tak kepanasan jika siang hari. Saya tak pernah bingung besok di sembelih atau tidak, besok masih hidup atau mati, saya tidak pernah menanyakan hal itu ke Tuhan. Tuhan sudah mengatur jalan hidup setiap-setiap makhluknya.
Saya heran kenapa masih ada makhluk yang bunuh diri, khususnya manusia, padahal tinggal di tunggu pun kita juga bakalan mati. Hidup hanyalah tentang menunggu antrian mati, kenapa sih harus menyerobot antrian dengan cara bunuh diri. Mungkin orang-orang yang nyerobot antrian mati lewat bunuh diri ini semasa hidup di dunia juga suka nyerobot antrian di atm, di pom bensin, dan antrian-antrian yang lain. Saya pun siap mati kapan saja, dimana saja, tapi bukan dengan cara menyerobot antrian lewat bunuh diri, tapi lebih ke menyerahkan diri, seperti Gold.D.Roger.
Ada sapi yang menjadi sapi perah, ada yang menjadi sapi pembajak sawah, dan sapi khusus idul Adha seperti saya ini. Begitupun manusia, ada yang menjadi presiden, ada yang menjadi dokter, ada yang menjadi guru, ada yang menjadi artis. Jika sudah banyak makhluk yang seperti itu, biarlah saya tetap menjadi sapi idul Adha seperti ini. Bukan soal tampil beda, tapi agar keseimbangan peran tetap terjaga. Kalau semua sapi di dunia ini ingin menjadi sapi peliharaan yang disayang-sayang, lalu siapa yang berperan menjadi sapi idul Adha untuk di sembelih ? bukankah itu peran yang harus saya jalankan ?” 
Sialan. 2-0. argument sapi yang kedua ini juga memiliki kebenaran absolut. Tidak bisa saya sanggah. Benar-benar pengalaman yang berharga bisa ngobrol secara langsung dengan sapi idul Adha.
Pertanyaan saya yang terakhir untuk dosen sapi, dan mungkin ini yang paling penting, adakah pesan yang ingin  anda sampaiakan kepada sapi lain atau kepada manusia ?
Untuk para sapi-sapi pemberani yang tak pernah takut mati, walau golok raksasa mengancamu sewaktu-waktu. kita adalah golongan sapi-sapi yang sudah dijamin masuk surga. jangan bersedih hati karena kehidupan di dunia hanyalah sementara, kehidupan di surga kekal. semoga di surga kita bisa menyembelih manusia sesuka hati. Wahai manusia, Sesuap daging sapi tak terlalu beresiko, itu tak berbahaya. Takut meninggal karena darah tinggi ? alah, omong kosong. Andai setiap idul adha kalian melewati ancaman pembunuhan, kau akan merasakan apa yang kami rasakan. Kami pun berkeluarga, beranak pinak dan sejahtera. Kami harus melahirkan anak sapi dari perut ibu yang bergizi. Agar kelak bisa menjadi sapi yang gagah berani, syukur-syukur bisa kuliah di luar negeri.
Kenapa kau bisa semudah itu membunuh keluarga kami ? apa kau Tuhan ? bisa semena-mena berkehendak menentukan siapa yang akan mati hari ini. waktu bayi naluri membunuhmu masih tumpul. Semakin dewasa kau di ajarkan menjadi pembunuh yang ulung. Seolah-olah tindakan pembunuhan sapi adalah hal yang wajar. Setelah kau bunuh pun, terkadang masih sering kau patahkan buntut kami untuk kau jadikan sop.
Sejujurnya, kami tidak takut. Kami adalah pemberani, hari Minggu kau jadikan ayahku tongseng, Seninnya kau jadikan ibuku gule . Hari Selasa ku tantang kau sendiri. Tanpa ayah, tanpa ibu. Akhirnya hari Selasa aku pun menjadi sate. Mati dengan gagah berani, mati di telapak tangan sang tukang jagal. Sambil di iringi kalimat takbir. Walau besok hari selasa aku akan mati, teman-temanku akan selalu hadir kembali, selalu ada, selalu nyata, dan berlipat ganda.
Lebih baik mati dibunuh manusia daripada mati dibunuh teman sendiri. Kami sesama sapi memiliki jiwa peri kesapian, sesama sapi tak akan pernah salling membunuh. Kalau manusia ? ah memang luar biasa makhluk yang satu ini. jangankan sapi, semua hewan aja dibunuh. Belum pernah kulihat ayam membunuh ayam, kambing membunuh kambing, sapi  membunuh sapi."

"Kalau manusia membunuh manusia ?"







x

Sabtu, 04 Agustus 2018

Bantul Ndung (3)

Dingin masih menyengat. Saya pandangi gedung sekolah pasca sarjana universitas pendidikan indonesia. Gedung dengan 6 lantai dan serambi yang sangat luas. Berlahan saya masuki gedung tersebut. Saya melihat lift di bagian tengah ruang lantai 1. tanpa berfikir panjang saya langsung menaikinya. Setelah sampai di lantai 5, orang-orang pun melihat saya dengan tatapan sinis. What wtong man ? . saya tidak peduli.

Akhirnya masa orientasi di mulai. Pundi-pundi pertemanan mulai bertambah satu-persatu. Rektor pun memberi sambutan yang cukup bagus di orientasi tersebut. Ternyata orang-orang yang bisa masuk ke gedung ini bukan orang sembarangan. Dan saya termasuk salah satunya. Walaupun saya merasa saya adalah orang sembarangan. dari ribuan pendaftar, hanya 21 mahasiswa yang diterima di prodi saya. Wow !

saya bertemu dengan rifky, local hero UPI. mahasiswa asli UPI, setelah lambat laun bercerita, akhirnya dia menceritakan tentang hukum tidak tertulis yang menyatakan bahwa naik lift bagi mahasiswa olahraga adalah hal yang memalukan. jika memang itu terjadi, akan ada sanksi sosial berupa pandangan sinis dari khalayak sekitar. oke, terjawab sudah kenapa tadi saya dipandang sinis oleh beberapa orang.

Lalu saya pun bertemu dengan sosok bernama akbar. Dia berasal dari aceh. Dia menceritakan tentang segala ke acehan nya yang membuat saya geli. Tentang bioskop yang di bedakan antara kaum laki-laki dan perempuan, tentang konser yang tidak boleh di selenggarakan malam hari, sudah di selenggarakan siang hari, masih di pisah pula antara laki-laki dan perempuan. Tentang ganja yang begitu banyak, tentang tsunami yang pernah menghantam aceh beberapa tahun silam.

Yang paling menggelikan adalah tentang kolam renang di aceh. Perempuan harus tetap menggunakan krudung dan leging yang menutup seluruh tubuhnya. Leging pun belum cukup untuk menutupi aurat, masih ditambahi rok, begitu katanya. tapi bukan itu puncak geli nya. di aceh, jika ada event nasonal seperti popnas ataupun pon, yang paling banyak penontonya bukan cabang olahraga sepak bola ataupun bola voli, tapi renang. Ada apa gerangan ? ternyata penonton hanya ingin melihat wanita menggunakan pakaian renang secara legal dan sah. Mungkin atlet dari aceh memang masih menggunakan hijab, tapi penonton fokus melihat atlet-atlet yang berasal dari luar aceh. Sialan-sialan. Dia juga menceritakan biaya ke thailand dan biaya ke malaysia jauh lebih murah dari biaya ke jakarta. Bagi dia, jalan-jalan ke luar negeri adalah hal yang mudah. Jalan-jalan ke pulau jawa adalah hal yang susah.

Itu hanya tentang dia yang berasal dari bandung dan aceh. Lainya yang juga berasal dari luar jawa belum saya tanyain. Tunggu aja.

Bersambung…