Kamis, 02 Agustus 2018

Bantul Ndung (2)

Bantul ndung. Tenang saja. Hidup hanyalah tentang cara menyikapi suasana ke suasana tanpa harus kehilangan semangat. Setelah kamar samping kanan sudah saya ajak kenalan, giliran kamar samping kiri yang saya ajak kenalan.

 Perkenalkan a’, Fauzan dari Jogja.
“ Oh Pauzan dari Jogja ? iya, iya salam kenal.”
Fauzan a’, bukan pauzan.
 “Iya pauzan kan ?”
. Fauzan, pakai F. bukan pakai P.
 “iya pakai F, Pauzan kan ?.”
Coba a’ ikuti pelan-pelan. F. “iya F”. A. “iya A”. U. “iya U”. Z “iya jet”, Zet a’ bukan jet. “iya jet”. ( terserah elu deh a’). A. “iya A”, N. “iya N”.
Jadi F-A-U-Z-A-N !
“iya, P-A-U-J-A-N kan ?!”

Terseraaaaah, terseraaaaah oh terseraaaaah. Capek aing euy. “Pawang ujan” juga nggak papa, pokoknya terserah. Samping kanan ada aa’ ndasmu njungkel, samping kiri ada aa’ pawang ujan. Oke fine. Saya sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi selama beberapa bulan kedepan.

Percayalah, kos saya tidak lebih baik dari penjara eksklusif di rutan sukamiskin. Sepersekian detik bahkan saya berfikir lebih nyaman di penjara daripada di kos-kosan. Tapi sepersekian detik kemudian saya berfikir jika saya di penjara pasti saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Akhirnya saya memilih hidup di kos-kosan.

Tadi malam sekitar pukul 23.30 WIB ada teteh-teteh pakai krudung putih ngintip dari samping jendela kamar. Kabarnya sih teteh bandung cantik-cantik. Tapi yang ini kok wajahnya agak aneh ya. Pakai krudung putih, lagian ngapain juga krudungnya di kucir. Aneh banget. Lalu saya lihatin lagi, tapi dia sudah nggak ada. Mungkin dia malu. Saya pun juga malu sih kalau di lihatin terus.

Paginya, matahari di angkat dari tempatnya pukul 06.00 WIB ( waktu indonesia bandung ). Mataharinya masih hangat, tapi tidak bisa langsung di santap. Masa orientasi pun siap dimulai. Setelah selesai melakukan ice bucket challenge, saya pun dengan sigap memakai pakaian khas mahasiswa baru, hitam putih. Dengan berjalan kaki, saya pun berangkat ke kampus dengan riang gembira. Ingin sekali aku berjalan sambil melompat-lompat, tapi tidak saya lakukan karena saya malu. Sambil sesekali melihat chat whatsapp di hp, “pak, bakal balik ke mudaba enggak ?”, “pak kok nggak pamitane”, dan lain-lain, dan sejenisnya.

Entah selama ratusan hari kedepan, entah menjadi orang seperti apa aku ini, aku pun belum bisa membayangkan. “12 purnama akan ku lalui, semoga nona sudi menunggu hingga aku kembali”. itu adalah gaya tulisan Wijang Pulung meniru AADC yang pasaran itu. Tai lah.

Akhirnya langkah saya pun telah sampai di gedung sekolah pasca sarjana lantai 5, Universitas Pendidikan Indonesia. ( UFI ).

Bersambung…

Rabu, 01 Agustus 2018

Bantul Ndung.

Bantul ndung. Tenang saja. Hidup hanyalah tentang cara menyikapi suasana ke suasana tanpa harus kehilangan semangat. Mutiara selatan datang dari sebelah timur menuju ke barat. Di tiket tertulis gerbong nomor 3 kursi 4A. saya bersama saya sendiri masuk melalui pintu bagian belakang. Tak ada yang menarik, semua berjalan sewajarnya. Kurang lebih 8 jam perjalanan dari Jogja ke bandung. Di pagi hari pukul 08.33 wib seharusnya kita sudah sampai. Tapi karena rel kereta apinya macet, menjadi molor sampai jam 9.00 wib. Di tengah kemoloran itu saya pun kebelet eek.

Eek sambil naik kereta tidak enak. Tadi saya kepleset satu kali saat jongkok. Engkel kaki saya ketekuk. Tapi saya diem aja. Pura-pura tidak ada yang melihat. Kenyataanya memang tidak ada yang melihat. Engkel terasa sakit, tapi tetap pura-pura semua baik-baik saja setelah kembali ke tempat duduk. “kakinya kenapa mas ? kok jalanya pincang-pincang ? “ Enggak bu nggak papa. Ingin sekali aku menjawab “kepleset waktu eek bangsat”.

Eek di kereta enggak enak. Saya selalu gagal memasukan tai kedalam lubang sasaran. Selalu meleset. Karena goncangan yang tidak bisa diprediksi, karena saya tidak tau kereta akan belok kanan atau kiri. Lalu saya harus membersihkan sisa-sisa tai yang menempel di kloset karena tidak tepat sasaran. Akhirnya saya berhasil menghilangkan jejak. Tai lah tai.

Menyamnbut pagi yang lapar, disamping stasiun ada warung makan khas sunda dengan bakwan gorengnya. Pak, bakwannya satu berapa ? “??????”. bakwan a’ bakwan. “ohhh, bala-bala ?” bakwan a’ ! “ini namanya bala-bala dek”. Sialan ngotot juga nih bapak. Udah saya benerin tetep aja ngotot. “Naon teh bakwan ?”. apaan teh di campur bakwan. Saya nggak pesen teh bakwan pak !.

Blunder terbesar ketika pergi ke Bandung adalah tidak membawa selimut. Saya terlalu meremehkan iklim bandung. For your information, di Bandung, Ice bucket challenge dirayakan setiap pagi dan sore. Alias mandi ! Kalau di mas kobis air es harganya seribu, di Bandung, air es gratis, satu bak mandi. Saya langsung dengan cepatnya mencari kos-kosan agar langsung bisa leha-leha sekalian istirahat. mas, saya fauzan mas, perkenalkan. “Oh Fauzan, dari Medan ya ?”. Medan ndasmu njungkel, kata saya lirih. “naon a’ ndasmu njungkel ? lalu saya memberi contoh bagaimana ndas njungkel. “ oh, kepala kebalik ?” nah iya. Itu ndasmu njungkel. Saya dari Jogja mas, bisa-bisanya dikira dari Medan. Apa kah wajahku ini seperti boris bokir ?


Bersambung…

Rabu, 20 Juni 2018

Me vs You

Kapan laki-laki mengeluh "enakan jadi perempuan" ?
Kapan perempuan mengeluh "enakan jadi laki-laki ?".

Berdasarkan survey pribadi :
Laki-laki mengeluh "enakan jadi perempuan" di saat :
1. Setiap mau berangkat jumatan di hari jumat.
2. Menjadi imam saat solat.
3. Lokasi-lokasi yang memungkinkan kejadian ladies first, seperti tempat duduk didalam bis kota, halte, dll.
4. Saat kondisi hujan dan Cuman membawa satu mantol mode egois padahal boncengan berdua dengan perempuan.
5. Saat si kampret kejepit rit sleting.
6. Detik-detik antri sunatan.

Berdasarkan survey pribadi beberapa bulan, ( setelah minum kiranti, memakai pembalut, memakai miniset & bra, membuncitkan perut seperti ibu hamil) Perempuan mengeluh "enakan jadi laki-laki" disaat :
1. jongkok di wc saat mengandung bayi 6 bulan. (daya tahan kaki hanya 1 menit, setelah itu gringgingen, sumpah)
2. Memotong kuku jempol kaki saat mengandung bayi berumur 6 bulan. (Tangan sangat sulit menjangkau jempol kaki dikarenakan perut ngganjel)
3. Saat proses kehamilan harus membeli baju dan celana baru karena sudah tidak sesuai ukuran.
4. Saat proses persalinan. (Kalau yang ini masih kayaknya, belum pernah survey pribadi)
5. (Kayaknya) Saat menstruasi.
6. Saat puasa ramadhan tidak bisa satu bulan full dan harus diganti di bulan lain. ( yg ini sudah melalui proses survey pribadi)

Oke sekian.
Jika ada yang mau menambahi silahkan di tulis di kolom komentar. Persepsi pribadimu sangat membantu dalam dunia "oh ternyata gitu".

Minggu, 10 Juni 2018

Hewan Peliharaan.

Apakah kamu pernah merencanakan sesuatu tapi gagal. Atau justru yang direncanakan matang matang malah lebih sering gagal ? Ya sama. Saya pun juga begitu. Rencana saya dalam jangka panjang selalu gagal. Mulai detik ini, Saya tidak pernah merencanakan tentang 4 atau 5 tahun yang akan datang. Saya selalu merencanakan yang saya harapkan sampai nanti pukul 24.00. Untuk hari ini, biarlah untuk hari ini. Hari esok biarlah untuk hari esok. Karena setiap hari memilki momentumnya masing masing. Percuma merencanakan untuk seminggu kedepan sedangkan besok pagi masih hidup atau mati aja masih mbuh-mbuhan.

Saya tak pernah membuat planing matang-matang. Percuma planing matang-matang. Kalau Tuhan selalu ikut campur. Tuhan selalu cekikikan dari atas ketika ketika membuat rencana rencana yang manis. Tanpa kita sadari kita hanya merencanakan hal-hal indah tanpa membayagkan rencana buruk yang selalu ingin hadir menemani. Jika hari ini sesuai rencana, Seharusnya saya sudah menikah dengan mantan saya yang tidak terlalu cantik itu. Mungkin sekarang istri saya sedang mengandung anak saya yang pertama. Tapi apa yang terjadi di kenyataan ? Bulshit ! Saya masih bengong di depan teras rumah sambil mainan hape seperti ini. Dulu saya juga merencanakan dengan mantan punya anak dua. Satu laki satu perempuan. Dan sudah merencanakan nama namannya. Tapi yang terjadi adalah bulshit. Tuhan selalu cekikikan di atas sambil bilang, Kamu siapa to kok ngatur ngatur ? Emang kamu Tuhan ? Yang Tuhan itu saya lo. Kira-kira begitu. Sekarang saya seperti peliharaan Tuhan yang menurut apa yang diperintahkan Tuhan. Seperti setiap saat Tuhan memliki hak prerogratif untuk mengacaukan kehidupan saya dan membunuh saya. Mungkin hidup ini seperti sangkar di dalam sangkar. Didalam nya masih ada sangkar. Begitu seterusnya. Tanpa kalian sadari, sebenarnya kita ini juga hewan peliharaan lo !

Sabtu, 09 Juni 2018

Waktu yang Tepat untuk Marah

Masih pagi kok udah marah-marah..

Brarti kalau siang boleh marah ?

Siang hari jangan marah-marah,

hawanya sudah panas, jangan nambahi panas..

Brarti nanti malem bisa marah nih ?

Udah malem, jangan marah-marah

jangan bikin ribut..

ngganggu tetangga,

mending buat tidur..

Yaudah besok pagi aja marahnya..

Sudah pagi, saatnya marah..

Tapi masih pagi kok udah marah..

Udah. Gitu aja terus..

Sampai patrick punya wudel.

Inilah waktu yang tepat untuk marah..


Selasa, 29 Mei 2018

Asu tanpa Ransi

Kembali Mencintaimu adalah hal ternekat dalam hidupku. Aku ini siapa sih ? Berani beraninya kembali muncul dan mencintaimu. Binatang jalang ? Oh bukan. Aku bukan Chairil anwar. Aku ini siapa sih ? Insan ? Atau sapi ? Ah ternyata aku cuman aides aigepty. Yang nekat menyedot darah manusia walau tau suatu hari akan tertablek juga.

Ah kamu semakin cantik. Sialan. Gaya rambut menyerupai kamidia radisti pun membuat pesona tak terbendung. Jantungku serasa dipantul-pantulkan ke lantai oleh kevin durant. Oh inikah cinta ? Saya sudah tau betul ciri-cirinya. Ini memang cinta ! Cinta itu memang asu, tanpa ransi. Cinta itu daun kemangi di kobokan pecel lele, di unyel unyel lalu dibuang. Cinta itu daun pisang bungkus sego kucing. Nasi habis, di untel-untel lalu dibuang.

Ah sudahi saja semua ini. Cuman mau bilang, Aku masih tetap mengaggumimu. Mirip saat pertama bertemu.

Jumat, 04 Mei 2018

Dendam Kesumat

Di langit-langit atap tak ada bintang, tak ada bulan.

Tapi ada cicak, mulai mengibas-ngibaskan buntut.

 Hitam putih di brutu nya mulai merekah.

Aku pun deg-degan.

Seperti ingin membuat vandalisme di pipiku.

Membuat vandalisme dengan hitam putihnya yang merekah di brutu.

Jantungku mulai berdegup kencang.

 Aku takut akurasi brutu nya tidak titis.

Yang seharusnya dia curahkan di pipi malah meleset kebagian mulutku yang mangap.

 Ah, kenapa saya malah mangap-mangap di bawah kibasan ekor cicak ?

Lalu aku dengan terburu-buru langsung pergi dari area target pengeboman.

Lalu, hal yang dia inginkan benar-benar terjadi.

Aku melihatnya dengan cermat, meluncur deras dengan bantuan gravitasi 10m/s.

Meluluh lantakan seprei kasur yang baru saja saya ganti !

Sial !

Lalu dia pergi begitu saja seolah-olah itu hal yang biasa.

Aku sangat dendam.


 Ingin sekali aku membalasnya.

 Ingin sekali aku bisa merayap di tembok, mencari cicak yang melata di lantai, lalu aku jatuhi dia dengan coklat pekat, blar !


Mampus kau di koyak koyak tai.


-tamat, dendam kesumat.