Selasa, 18 Juli 2017

Hassan a.k.a Roronoa.

Hallo, nama saya roronoa hasan. Biasa dipanggil hassan. Hari ini saya ulang tahun. Saya lahir 20 juli sekitar 23 abad yang lalu. Saat itu medsos belum ada, listrik juga belum ada. kalau malam minggu saya suka nongkrong di depan goa sama temen-temen. Disambi sambil ngasah tombak dan golok buat berburu dinosaurus. Disambi sambil menceritakan tyrex yang ngamuk kemarin sore.
 Hallo, nama saya hassan, hari ini saya ulang tahun. Saya adalah makhluk berbadan atletis tetapi kadang ateis. Saya percaya dengan jin, saya cerdas, mahasiswa cumlaude, dan selesai kuliah dengan waktu 3,5 tahun. IPK saya 3,62 km/jam. Bisa saja saya raih IPK 4,00, tapi saya males dikatain pamer, saya males dikatain sombong. Jadi setiap ujian semester jawabannya saya salah-salahin, biar nggak dapet A, biar IPK nya nggak 4,00, biar teman-teman tidak curiga, dosen juga nggak curiga. Sayangnya pada akhirnya tetap cumlaude saat wisuda.
Hallo, nama saya hassan, hari ini saya ulang tahun. Saya suka kencing sambil berdiri, terkadang jonngkok kalau lagi eek. Kalau lagi berdiri saya suka ngarahin air kencing ke dalam bak mandi ataupun ke dalam ember. Lalu saya aduk-aduk pakai ciduk supaya asamnya merata. Agar jentik-jentik nyamuk penyebab demam berdarah mati dengan cara sesingkat-singkatnya. Saya asli cilacap, logat saya ngapak, tapi saya memegang erat budaya thailand. dengan segala kelebihan saya diatas, saya yakin mendapat wanita yang cantik luar biasa, semacam juara miss hijab sunslik.
itu adalah tentang saya beberapa abad yang lalu, Tentang saya yang sekarang dan masa yang akan datang. Ini adalah petualanganku di zaman millenium, mau suka atau tidak, terserah padamu.
  
Agustus, 2012.
Rembulan yang berbadan kecil mulai menyembunyikan dirinya karena minder sang bintang paling besar di jagat raya mulai menampakan badanya. Dialah matahari. Disaat itu burung-burung tertawa sahut-menyahut menertawai bulan yang bersembunyi karena saking takutnya terhadap matahari. Keadaan alam yang gelap sedikit terang, tenang, tapi berisik oleh tawa burung seperti itu biasa kita sebut, pagi.
Ternyata tak cuman bulan yang takut terhadap matahari, saya pun juga takut terhadap kakak kakak badan eksekusi mahasiswa ( BEM ) yang siap memarahi saya jika saya telat berangkat ospek. Keadaan saat itu juga masih pagi, topi kerucut warna-warni, berangkat pagi-pagi sekali, berkalung kertas, memakai tas kotak , berpita, seringkali bernyanyi-nyanyi, tepuk tangan, dan kadang berjalan dengan langkah gemetar di suatu pagi menuju timur. Sungguh cupu sekali saya saat itu. Kepala botak menyerupai saitama, tanpa ditemani genos, saya berjalan sendirian tanpa ditemani teman-teman yang tidak punya teman. Saat itu bulan puasa, tapi saya tidak puasa, karena saya adalah non-Nasrani. Saat teman-teman saya yang tidak punya teman itu membawa air mineral untuk wudhu, saya membawa air mineral untuk di minum. Air mineral untuk wudhu ? “ini pembodohan !”, teriak saya dalam hati. Saat itu bulan puasa, teman-teman saya abab nya pada mambu, saya enggak, karena saya rajin sikat gigi. Saya kalau sikat gigi suka menggunakan odol close-up, karena rasanya enak kalau ditelen.
Sekoempoelan mahasiswa kuning berkumpul di tribun GOR UNY bagian barat. Dengan kepala gundul-gundul, kepala kami pun memancarkan sinarnya. Apalagi diterpa matahari terbit dari timur, itu adalah pemantulan sinar soklay sekaten yang haqiqi. Lalu kami nyanyi-nyanyi di dalam GOR sampai sore. Udah gitu doang. Saya nggak mau bahas panjang lebar tentang ospek, karena itu adalah pembodohan manusia yang haqiqi, yang penting saya tau, Ternyata seperti ini yang namanya ospek. Ternyata seperti ini yang namanya kuliah.
 Hah?
 Saya kuliah ?
 sejak kapan ?.
Ternyata saya kuliah di jogja. Di awal-awal kuliah saya tinggal di wisma olahraga ( wismor ). Di wisma saya suka nyuri barang orang, saya pernah nyuri batrai nokia, headset, dan sepatu converse flat milik rendra. Rendra adalah teman palsu saya. Selama saya berteman denganya, saya selalu memanfaatkanya. Saya sering mbonceng dia, dia sering saya suruh njemput, dia sering saya suruh nganterin sampai ke rumah. Mau-maunya dia jadi ojek pribadi, bodoh. Semua barang-barang yang saya curi di wismor saya sumbangkan ke anak yatim. Begitulah saya, karena saya adalah robin hut.
Saya suka main PES. Dari PES di PS2 sampai PES di laptop, saya sangat jago. Semua gamer di dunia mungkin bisa saya taklukan di saat bermain PES, kecuali teman saya, robin fau persie. Robin fau persie adalah makhluk terhebat yang pernah saya temui. Dalam segala bidang, saya tak pernah menang melawanya. Sendiko dawuh terhadap robin fau persie. Saya suka kaos seephelez monster. Bagi saya keren, bagi orang lain enggak. Saya suka sekali pakai kaos bergambar monster dengan cairan ndlewer-ndlewer. Sering saya pakai ketika saya pergi ke mall, sambil foto-foto selfie. Banyak orang bisik-bisik dari kejauhan, tapi saya bodo amatin, kenal juga enggak.
Saat kuliah saya suka pakai sepatu futsal, celana jeans sangat ketat dan baju hem warna kotak-kotak motif abu-abu. Menurut saya gaya gue keren. Tapi menurut orang lain enggak. Banyak orang mempermasalahkan sepatu futsal hijau yang saya kenakan di kelas. Whats wrong man ? whats wrong ? saya suka sekali main futsal, wajar dong kalau kemana-mana pakai sepatu futsal. Sungguh saya tidak bisa mengerti pola pikir mereka. Saat futsal saya suka memakai sepatu converse flat. Walaupun itu sebenarnya itu milik rendra yang berhasil saya curi. Saya kalau kuliah suka pakai sepatu futsal, kalau lagi main futsal suka pakai sepatu converse. Apa kata orang ke saya, saya nggak peduli.

Agustus, 2015.
Adik tingkat mulai berdatangan. Akhirnya saya punya adik angkatan. Kesongongan saya terhadap orang lain semakin bertambah. Gaya-gayaan semakin saya tingkatkan demi mengikuti arus kampus yang gila. Hampir setiap hari saya ke mall untuk mengisi jam kosong saat kuliah. Sebenarnya bukan hanya mengisi jam kosong, tapi agar terlihat kece dihadapan teman-teman sekelas.  Biar kalau ditanya “ dari mana” saya bisa menjawab “dari mall”. Saat itu saya merasa keren dengan kepribadian seperti itu. sebelum sekelompok manusia kampungan datang menjemput. Tak perlu saya sebutkan siapa siapa saja sekelompok manusia kampungan itu. Yang jelas inisial nya adalah Rendra Vermansyah, Putut Yudha Mahardhi, Rizky Mahardani, dan lain-lain, dan kawan-kawannya. Sejujurnya setelah melalui beberapa pertemuan dengan mereka, saya agak sedikit berubah dalam hal berperilaku. Dimana dulu yang saya suka adalah keglamoran, kepameran dan sibuk mencari pengakuan, setelah bersenggama dengan mereka beberapa bulan membuat saya menjadi makhluk yang lebih sederhana. Lebih low profil dan apa adanya. Sejujurnya itu membuat saya lebih tenang menjalani hidup. Saya tak perlu memaksakan diri untuk “terlihat kaya” di hadapan teman-teman dan saya lebih bisa menjadi diri sendiri. Toh kata Zan Malaka seorang filsuf yunani mengatakan bahwa “kesombongan adalah dorongan dari rasa miskin”. Saya jadi jarang selfie, jarang pakai tongsis, jarang foto-foto di cafe, jarang foto-foto di bioskop. Saya menjadi paham makna kehidupan yang haqiqi. Terimakasih sekelompok orang kampungan. Saya jadi keren.
Saya roronoa hassan, hari ini saya ulang tahun. Alhamdulilah tepat 1 tahun yang lalu saya berhasil lolos dari kematian. Walaupun segala halangan rintangan menghadang, saya tetap bisa bertahan hidup. Doakan tahun ini juga berhasil. Semua orang pasti mati, cuman bagaiamana cara matinya itu yang seru. Mati karena perang dunia ketiga ? mati karena rebutan lahan di planet mars ? atau mati gara-gara ketabrak kereta api saat selfie ? hanya Izrail yang tau, hanya Tuhan yang tau.

Zedayu sky. 18 Julay, 2017.



Minggu, 09 Juli 2017

The Power of “Yaudah”

Yaudah, sebuah kata yang kalau di artikan kedalam bahasa thailand berarti youwis. “youwis”, kalau diartikan dalam bahasa vietnam artinya yaudah. Yaudah, sebuah kata yang diartikan oleh KBBI sebagai ..... Dan ternyata KBBI memang tidak mendefinisikan kata “yaudah”. Kalau begitu saya akan menalar dengan menggunakan ilmu kesotoyan yang teruji ketidak akuratanya. Yaudah berasal dari kata “ya” dan “udah”. “ya” berarti sebuah ungkapan untuk menyatakan setuju, dan “udah” berarti selesai. Jadi yaudah dapat di artikan sebagai sebuah sikap setuju bahwa semua permasalahan yang terjadi di dunia ini dianggap selesai. Sampai sini paham ? oke lanjut.
Kebanyakan orang tau kata “yaudah”, tapi susah untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi mengatakan kata “yaudah” dengan penuh ke ikhlasan, hm, sepertinya sulit. Misal sebuah contoh, ada sebuah hubungan perpacaran yang rumit, yang hubunganya sudah tidak bisa ditolong karena si cowok numpang tidur di rumah mantanya. Lalu si cewek tau dan si cewek minta putus, lalu si cowok bilang,
“hah? Putus ?”
 “salahku apa ?”
“masak cuman gara-gara aku nginep di rumah mantan, kamu minta putus sih ?”
“kekanak-kanakan banget sih ?”
Pasti cowok selalu melakukan pembelaan, melakukan pembenaran yang dipaksakan dan selalu mencoba untuk mempertahankan sebuah hubungan padahal memang kesalahan fatal. Jarang ditemukan cowok yang kalau ceweknya minta putus langsung dijawab dengan simpel oleh si cowok “yaudah”. Lalu pergi dengan tenangnya. Mungkin terlihat aneh. Tapi memang begitu cara kerjanya. Hasil perenungan saya selama beberapa detik yang lalu, bahwa segala sesuatu kita sikapi dengan “yaudah” akan menimbulkan perasaan tenang dan keikhlasan tak terbatas. Saya menyebutnya level ikhlas tingkat strata 1.
Contoh lain, apabila kita suka terhadap perempuan, kita menawarkan hati, lalu di tolak, kita hanya perlu menggunkan kata “yaudah”. Lalu pergi dengan tenang. Simpel. Sambil berfikir ,”oh, yaudah, mungkin dicoba lain kesempatan bisa diterima, atau dicoba ke perempuan lain mungkin juga di terima". Kata “yaudah” membuat kita anti sakit hati. Membuat kita menjadi siap tentang hal-hal yang akan terjadi di dunia ini walaupun itu hal yang tak terduga sekalipun. Kita harus pandai mengolah kata “yaudah” lalu memberi argumen yang relevan agar bisa lebih menenangkan hati.
Contoh lain, semisal tidak diterima di SNMPTN. Kamu memiliki dua opsi untuk menyikapi hal tersebut. Kecewa lalu sedih berlarut-larut, atau bilang “yaudah” sambil mencari argumen penenang. Kalau saya akan menerapkan opsi kedua sambil ber argumen dalam hati “oh yaudah, kan masih ada seleksi mandiri. Kalau seleksi mandiri nggak diterima, toh masih ada tahun depan”. Memang seperti itu cara kerjanya. “Yaudah” membuat hati kita semakin kuat karena benturan rasa kecewa berkali-kali. Sehingga bila kita kembali menghadapi kekecewaan, kita sudah siap untuk menghibur diri kita sendiri dengan argumen yang kita ciptakan sendiri. Seperti filsuf asal sedayu pernah bilang, bahwa kecewa adalah hasil dari harapan yang terlalu tinggi. Maka dari itu, turunkanlah harapan serendah mungkin, jangan terlalu banyak berharap, agar rasa kecewa males menghinggapi hatimu, dan buat Tuhan menjadi males mengujimu. Karena kamu terlalu ikhlas dalam menghadapi segala cobaan yang Tuhan berikan ke kamu. Karena Tuhan yakin jika cobaan diberikan ke kamu, maku kamu akan menghadapinya dengan santai dan tenang sambil bilang “ yaudah, hadapi saja, toh nanti juga bakal berakhir, kalau nggak berakhir pun paling nanti kita juga terbiasa”. Sungguh ketabahan yang sangar.
Sepertinya segala kegelisahan hidup bisa diselesaikan dengan kata “yaudah”. Segala pertanyaan hidup dapat diselesaikan dengan kata “yaudah”.  “Eh, kamu umur segini kok belum punya pacar sih ?”, (yaudahlah nggak papa, dari pada punya pacar tapi nggak nikah-nikah). Atau pertanyaan lain, “eh, kamu pacaran udah lama banget tapi kok nggak nikah-nikah sih ?” (yaudahlah nggak papa, kan nikah itu sunah menurut islam, jadi nggak wajib.). “eh udah nikah kok belum punya anak sih ?”, ( yaudahlah nggak papa, kan nikah nggak harus punya anak, bisa beli, ngadopsi bisa). Memang seperti itu cara kerjanya, memang seperti itu jawabanya. Saya percaya dengan pepatah bahwa semua pertanyaan pasti punya jawaban.
Ada ibu-ibu telfon ke suaminya bahwa motornya hilang, lalu bapaknya bilang “yaudah besok beli lagi”. Its simpel. Nggak perlu panik , nggak perlu marah , toh panik dan marah pun nggak akan membuat motornya balik lagi. Seolah-olah seluruh permasalahan di dunia ini akan selesai dengan satu kata ajaib, “yaudah”. Nanti kalau segala sesuatu di “yaudahin”, kita masuk neraka gimana ? “yaudah, tinggal masuk aja, kita tunggu sampai masuk surga”. Heh ! rumah kita kebakaran ! “yaudah, tunggu apinya sampai padam, nanti juga padam, itu lagi disrempot air sama pemadam kebakaran”. Nanti kita tinggal dimana ?. “yaudah, sementara kita tinggal dimasjid dulu, lalu kerja, lalu beli rumah lagi”. Ternyata kata yaudah bisa menenangkan segala jenis kejadian. Segala hal yang biasanya disikapi dengan panik selalu bisa menjadi lebih tenang kalau disikapi dengan yaudah. Bahkan kematian pun jika disikapi dengan yaudah akan lebih menenangkan dibanding dengan sebuah hal yang mengerikan seperti para pendakwah bilang.
"Kalau sakit, nanti  gimana ?" yaudah biar disembuhin dokter, kalau sembuh ya hidup, kalau enggak ya mati. "Kalau mati nanti gimana ?" yaudah, tinggal dikubur, pasti ada yang nguburin. "Kalau nggak ada yang nguburin ? kalau nggak punya keluarga dan teman dekat ?" yaudah nggak usah dikubur, toh nggak dikubur juga nggak papa. Cicak mati gepeng di engsel pintu aja nggak ada yang nguburin sampai berbentuk fosil.
 Simpel.
Sebenarnya hidup ini adalah sebuah kesimpelan belaka. Kepanikan dan imajinasi lah yang membuat segala sesuatu menjadi mengerikan dan menyeramkan. Kita terjebak dalam situasi “kalau nanti kayak gini gimana”, “kalau nanti gini gimana”, “ kalau nanti begitu gimana” ya begitu.  Alangkah baiknya kita ubah kegelisahan itu dengan siap menerima apapun resiko dengan bilang :

“yaudah”

 Kalau tulisan ini nggak ada yang mbaca gimana ? “yaudah nggak papa. Kan masih bisa saya baca sendiri”.



Kamis, 15 Juni 2017

Coklat ?

17.31.
Waktu indonesia bagian barat. Masjid Al-Amin mulai mengumandangkan adzanya, lalu saut-bersaut masjid yang lain mulai mengikuti ritme yang al-amin mainkan. Hari ini bulan puasa , semua bergegas mencari minum, semua bergegas mencari makan, segelintir bergegas mengambil air wudhu.
Aku ?
Aku masih tidur. Aku masih tidur dengan bodohnya, sedangkan yang lain mulai menyantap makan untuk berbuka. 18.01, waktu indonesia bagian barat, keadaan membingungkan. Kamar gelap, ruang tamu gelap, jalanan gelap. Erin dan bapak buka puasa di masjid. Ibu buka bersama di kantor. aku sendirian. Di rumah. Bingung mau buka puasa atau enggak. ku iseng teguk air putih, ternyata sangat mengenyangkan. Sambil berjalan kunyalakan lampu jalan, lampu di dalam rumah, lampu serambi depan, serambi kanan, serambi kiri, bilik kanan, bilik kiri , atrium kanan dan atrium kiri. Mungkin buka puasa seperti ini sudah sering terjadi , cuman kalian aja yang kurang tau.
Lalu aku nyalakan motor, aku kancing pintu, lalu ku pergi kesebuah tempat yang warga sekitar menyebutnya ANGKRINGAN.
“Baang, es teh enak satu”
Abang yang suka membisu itu tidak menggubris dan langsung membuatkan teh dengan es batu di dalamnya. Aku ambil nasi satu , gorengan satu , sambil menunggu es teh yang belum jadi. Rencana hari ini, aku akan menangkap 2 bungkus nasi kucing berwarna coklat, 3 gorengan tempe berwarna coklat dan satu gelas es teh berwarna coklat. Semua masih normal di nasi kucing pertama. Lalu si gadis berbaju coklat datang dengan auranya yang merusak suasana makan.
3 gadis dari puskesmas bercanda ceria berjalan dari sebelah timur ke sebelah barat dengan kecepatan kira-kira 2 km/jam. Sambil mengudak-ngudak gula yang belum larut sempurna, aku sedang meyakinkan diriku sendiri tentang apa yang terlihat. Astaga, saya kenal anak ini. Anak berbaju coklat, yang sekitar 15 caturwulan yang lalu masih memakai baju putih abu-abu, yang pernah kubelikan es krim magnum rasa coklat yang mahal itu. 90% saya meyakini dia tak melihat sosok ku. Dan memang itu yang ku harapkan. Mana mungkin aku berani menampakan diri dengan wajah tangi turu, baju kusut, belum mandi, mata lebam, ongap-angop, menyapai si coklat itu. Segala pertempuran hati mulai muncul dan mulai membuat suasana makan menjadi tidak enak. Rencana 2 nasi 3 gorengan pun gagal dan akhirnya aku pun sesegera mungkin menghabiskan es teh enak. Sedikit saya dengarkan obrolan mereka bertiga yang notabene atlet andalan di dalam puskesmas. Ternyata aku baru ngeh ternyata itu adalah acara buka puasa bersama puskesmas yang dekat angkringan kesukaanku. Aku, seorang laki-laki yang berbuka puasa di angkringan, mulai merasa malu untuk menyapa mbak bidan yang berbaju coklat itu. Halo yang memakai baju coklat, apakah kamu kenal aku ?


Minggu, 11 Juni 2017

Kapan Nikah ? dkk.

Kapan buber SD ?
Kapan buber SMP ?
Kapan buber SMA ?
Kapan buber kampus ?
Kapan lebaran ?
Kapan beli baju ?
Kapan beli celana ?
Kapan beli sepatu ?
Kapan pulang ?
Kapan ujian ?
Kapan lulus ?
Kapan kerja ?
Kapan nikah ?
Kapan punya motor ?
Kapan punya mobil ?
kapan punya rumah ?
Kapan punya anak ?
Kapan nambah anak ?
Kapan anak buber SD ?
Kapan anak buber SMP ?
Kapan anak buber SMA ?
Kapan anak buber kampus ?
Kapan anak lebaran ?
Kapan anak beli baju, celana dan sepatu ?
Kapan anak pulang ?
Kapan anak ujian ?
Kapan anak lulus ?
Kapan anak kerja ?
Kapan anak nikah ?
Kapan anak punya anak ?
Kapan anak punya tambahan anak ?
kapan anak punya anak yang punya anak ?
Kapan mati ?
Kapan bangkit kubur ?
Kapan lewat siratal mustakim ?
Kapan masuk neraka ?
Kapan masuk surga ? kapan bahagia ?

Kapan kapan kapan, ha, kapan ?

Jumat, 19 Mei 2017

Patah Hati

Setiap manusia memiliki hati, dan setiap hati pasti bisa patah. Hari ini saya akan menceritakan tentang beberapa patah hati terdahsyat yang pernah saya alami. Patah hati yang membuat hidup saya berantakan, goyah dan larut dalam kesedihan. Patah hati yang membuat saya paham apa arti patah hati dan saya bisa mengambil pelajaran dari kisah patah hati.
Ada beberapa patah yang masih saya ingat sampai hari ini. Semakin saya mencoba untuk melupakan justru bayang-bayang kenangan semakin nyata. Hari ini saya akan memberanikan diri menceritakan kisah patah hati terhebat yang pernah ada.
Semua berawal dari suatu pagi. Pagi itu keadaan biasa-biasa aja. Burung masih asik bernyanyi nyamuk demam berdarah masih liar berterbangan dan cicak masih nempel di tembok. Pagi itu semua manusia lapar dan ingin sarapan. Termasuk saya. Setelah mengantar erin saya pergi ke suatu tempat yang ada meja dan kursinya. Yang ada tendanya. Yang ada gelasnya, yang ada mangkoknya, yang ada kecapnya, yang ada sendok garpunya, yang ada mas-mas berdiri sedang nyiduki sebuah bubur ke mangkok. Itulah warung bubur ayam. Saya membeli satu , saya bungkus dengan plastik agar lebih mudah dibawa. Kalau saya pegang pakai tangan nanti buburnya tumpah-tumpah dan sudah dingin sampai di rumah. Saya pulang dengan rianag gembira sambil nyanyi-nyanyi dijalan. Siapapun yang lewat jalan raya saya sapa karena saya sedang bahagia. Tetapi tidak satupun yang membalas sapaan hangat itu.
Sesampainya dirumah bubur langsung saya ambil dan saya tumplakan ke mangkok. Saya makan dengan lahap sambil melihat sekeliling apakah ada tikus yang kepengen. Tiba-tiba bubur langsung habis, saya terkejut. Siapa yang menghabiskan bubur ini ? lalu saya berkaca dan melihat bekas bubur di mulut. Ternyata yang menghabiskan adalah saya sendiri. Sambil mengelap gabres di mulut, saya berjalan menuju tempat minum. Selagi saya masih berjalan , saya melihat plastik putih tergeletak di meja makan. Lalu saya bukak. Dan seketika itu juga saya berteriak astaghfiruloh sangat keras. Saya langsung tak bisa berkata-kata. Ternyata krupuk di dalam plastik belum saya makan. Dan bubur sudah terlanjur habis. Seketika itu juga saya menangis keras sekali. Tikus di belakang lemari tertawa terbahak-bahak. Cicak pun juga tertawa tapi ditahan karena takut nanti saya marah di kemudian hari. Saat itu saya merasakan patah hati terdahsyat selama hidup saya. Kenapa ya allah, kenapa semua ini harus terjadi pada hambamu ini. Hamba yang selalu menyembahmu, hamba yang kadang-kadang taat beribadah, kenapa ya allah, Kau memberikan cobaan seberat ini.
Beberapa hari setelah kejadian itu saya jadi nggak mau makan. Nggak mau makan bubur. Kalau yang lain masih mau makan. Makan banyak sekali. Beberapa hari berlalu dan saya masih belum bisa melupakan kenangan kelam itu. Kenangan yang membuat saya ditertawakan tikus dan cicak, kenangan yang membuat hati saya pecah berkeping-keping tidak karuan. Kerupuk yang seharusnya dilahap dengan bubur ayam bisa-bisanya terlupakan dan tidak termakan. Semakin mengingat hati saya semakin sakit. Butuh beberapa bulan untuk menyembuhkan luka di hati. Dan akhirnya saya berhasil melupakan bubur ayam seutuhnya. Dan akhirnya setelah kejadian itu saya tidak pernah lupa menuangkan kerupuk di atas bubur ayam.
Beberapa hari setelahnya, setelah saya berdamai dengan masa lalu saya yang kelam bersama bubur ayam, saya mencoba merajut harapan baru bersama indomi goreng. Dulu kami pernah dekat, tapi semenjak ada bubur ayam, dengan terpaksa saya mejauh dari indomi goreng. Tapi di suatu malam indomi goreng kembali merayu dan saya tak kuasa menolak aroma indomi goreng. Akhirnya saya memasak dan memakanya dengan lahap di malam itu. Setelah saya menghabiskan indomi goreng dan menjilati piring, saya berjalan menuju tempat peminuman. Disaat melakukan perjalanan menuju tempat peminuman, saya melihat bawang indomi goreng yang lupa saya taburkan di atas indomi goreng yang sudah matang. Seketika itu saya berteriak sangat keras. Saya menangis terbahak-bahak sambil nglesot-nglesot di tanah. Ekspetasi saya yang tinggi dengan melihat bawang goreng tersaji di atas indomi goreng sirna sudah. Blunder sudah terjadi. Sedih kembali melanda, semacam mengalami patah hati kedua, tapi saya sudah tidak bisa berkata-kata. Kekecewaan yang mendalam sudah merasuk kedalam tubuh ini. Susah tidur melanda gara-gara bawang indomi goreng. Tapi setelah patah hati dengan bubur ayam saya sudah cukup bisa mengolah hati dengan benar. Akhirnya saya sudah tidak terlalu galau dengan indomi goreng.
Saya pernah patah hati dengan teh lupa gula, dengan kulit ayam goreng yang jatuh ke tanah, dengan pinggiran tempe goreng yang di curi tikus, dan dengan goodday mocacino tanpa coco grandule. Tetapi tak ada patah hati yang lebih hebat dari bubur ayam dan bawang indomi goreng. Semakin patah semakin kuat. Cuman hati yang bisa begini.


Senin, 08 Mei 2017

Patimura Open Mic

                                                       

“ Halo, selamat malam. Perkenalkan nama saya patimura. Hari ini saya dikerjai sama manusia, nggak tau namanya siapa, tapi tiba-tiba saya di untel-untel dan dibentuk sedemikian rupa dan tiba-tiba saya jadi terlihat seperti memegang mic. Sebelum memberanikan diri open mic saya adalah penyanyi. Dan sebelum jadi penyanyi saya adalah mc dangdut. Dan sebelum menjadi mc dangdut saya adalah pejuang bangsa indonesia !
Apakah kalian tau saya ? saya adalah patimura, ( atau Thomas Matulessy) (lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama kapitan patimura, adalah pahlawan Maluku dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia ! ( sumber : wikipedia ). Tapi sekarang saya dikenal karena nempel di uang seribu. Ironis sekali. Sebagai uang, saya sering sekali di sia-siakan.
Saya tidak pernah ditemukan di bank, atm, atau di dompet cewek-cewek matre. Saya sering dijumpai di kantong saku tukang parkir, dempet anak kost, di kotak amal, kotak sumbangan, dan juga di kotak kumuh tempat membayar wc umum. Mungkin uang bergambar antasari dan imam bonjol sependapat dengan saya. Mereka adalah dua sahabat saya sejak saya dilahirkan. Kami tau kami siapa dan kami cukup tau diri untuk tidak berteman dengan uang bergambar sukarno&hatta dan i gusti ngurah rai.
Tapi kami bahagia sebagai uang receh, kami lebih sering berkunjung ke masjid, mushola dan kotak-kotak sumbangan dibandingan sukarno-hatta dan ngurah rai. Kami juga senang hidup bersama tukang parkir, kernet bis kota, dan ibu-ibu tua penjual sayur mayur di pasar. Mereka sangat menghargai kami, selembar demi selembar mereka rapikan baju kami yang kumuh, dan kadang kami dletakan di tempat yang layak. Kami merasa dihargai di tangan mereka , dan mereka masih mau menambal kami dengan solasi walau tubuh kami hancur sobek berkeping-keping. Terkadang wajah kami dicoret untuk lucu-lucuan anak alay, tubuh kami di kasih nomer telepon, dan kadang nomer telepon tersebut dikasih nama cewek cantik. Terkadang di dalam dompet sebuah cowok alay, kami juga melihat ada foto cewek yang diletakan berbeda ruang dengan kami. Ingin sekali kami merayu cewek itu tapi kami takut terkena hukuman masuk ke lubang kotak infaq yang gelap. Ya begitulah.

Melalui ini saya mau mengucapkan terimakasih untuk orang-orang lecil yang tidak sombong, yang masih mau merawat kami dengan baik. Dan untuk sokarno-hatta dan ngurah rai, sapalah kami sesekali karena kami juga ingin berteman dengan kalian. Sekian dari patimura , wasalamualaikum warohmatulohi wabarakatu ”